Senin, 20 Desember 2010

Helvetica: Sang Huruf Primadona

Akhir tahun 50-an adalah era yang penting bagi perkembangan desain grafis, terutama tipografi. Pada saat itulah muncullah sebuah typeface atau huruf yang kemudian menjadi sangat populer di kalangan desainer grafis bahkan hingga saat ini.

Tepatnya tahun 1957, Max Miedinger bersama dengan Eduard Hoffmann dari Haas Typefoundry, perusahaan pencipta huruf, menciptakan jenis huruf yang pada awalnya diberi nama Neue Haas Grotesk. Ia diciptakan dengan harapan mampu menyaingi huruf yang lebih dulu populer saat itu, yaitu Akzidenz-Grotesk di pasar Swiss.








Selanjutnya, typeface tersebut diadopsi oleh Linotype, saat ini merupakan merek dagang Linotype Corp., dan mengalami berbagai perubahan. Baru pada tahun 1960, namanya diganti menjadi Helvetica yang merupakan istilah latin untuk Switzerland atau negara Swiss.

"Helvetica was a real step from the 19th century typeface...It should be neutral. It shouldn't have a meaning in itself. The meaning is in the content of the text and not in the typeface."
- Wim Crouwel 

Helvetica merupakan typeface berjenis sans serif yang berlandaskan pada prinsip Swiss style, yaitu typeface dengan bentuk dan tingkat kejelasan yang nyata, tanpa adanya makna intrinsik, bersih, serta mempunyai tingkat keterbacaan yang tinggi. Dengan karakter seperti itu, Helvetica menjadi pilihan utama yang bisa diaplikasikan dalam berbagai media dan diasosiasikan dengan modern dan progresif.

Helvetica terkenal sebagai typeface berjenis sans serif yang sering dipakai di seluruh dunia. Banyak merek ternama menggunakan Helvetica untuk wordmark komersial sebagai bagian dari identitas merek. Demikian juga dalam desain periklanan, Helvetica tidak bisa dilupakan.

Sebagai peringatan 50 tahun Helvetica, pada tahun 2007, Linotype GmbH menyelenggarakan sebuah kompetisi yang diberi nama "Helvetica NOW" dan diikuti oleh ratusan desainer dari seluruh dunia. Berikut adalah pemenang 3 besar.

Tempat 1:
“Bread-and-Butter-Type”
Nina Hardwig (Jerman)






















Tempat ke-2:
“hel()v(s)et(h)icA(s) or hell vs ethics”
Alexandre Rola (Portugal)
























Tempat ke-3:
“Today”
Jamal Issawi (Lebanon)
















Kepopuleran Helvetica bukan berarti tidak mengalami kemunduran. Munculnya huruf Arial, yang diciptakan tahun 1982 dan mempunyai karakter huruf yang identik secara proporsi dengan Helvetica, merupakan faktor yang mempengaruhi kemunduran Helvetica.

Penggunaan Arial yang mirip dengan Helvetica dan terinstal secara default sebagai font standar dalam sistem operasi Windows dari Microsoft semakin menurunkan kepopuleran Helvetica. Akibatnya, orang lebih mengenal Arial daripada Helvetica.

Walau tidak sepopuler dulu, Helvetica tetap merupakan typeface yang menjadi pilihan. Itu karena sejarah panjang Helvetica yang membantu membentuk lansekap dunia desain grafis abad 20. Ketika Anda ragu, gunakan Helvetica.

Related Posts

Helvetica: Sang Huruf Primadona
4/ 5
Oleh

2 komentar

1 Januari 2011 05.53 delete

kalo udah kepepet pake ini font mantab bner dah..
tapi yg miris kalo gw liat Logo yg pake unsur helvetica.. si designer-nya dengan bangga anngap itu karyanya dia.. padahal HELVETICA yang banyak nolong..

*gk mau nyebut logo sapa, tebak2an aja sendiri hehehe*

Reply
avatar
28 Januari 2011 22.51 delete

walau ada arial, yg ktnya lebih web-friendly,
helvettica msh g tergantikan ;)

Reply
avatar