Header Ads

5 Kesalahan yang Dilakukan Klien terhadap Desainer Grafis

5 Kesalahan yang Dilakukan Klien terhadap Desainer Grafis - Dalam dunia pemasaran dan branding, peran desain grafis tak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan desain grafis sebagai bidang keilmuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendongkrak penjualan. Hal inilah yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang baik pebisnis maupun orang awam.

Pernahkah kamu memperhatikan desain layout brosur yang acak-acakan dan tidak memperhatikan estetika? Atau logo perusahaan/brand yang dibikin secara serampangan, tampak asal-asalan, dan terlihat kurang profesional? Bagi orang yang masih awam dengan desain mungkin saja tidak bisa membedakan mana desain yang bagus dan desain yang kurang atau tidak bagus.

Untuk menilai suatu desain memang memerlukan pengetahuan dan wawasan tentang desain grafis atau seni itu sendiri. Sedangkan mereka tidak sempat mempelajari seni atau memang tidak tertarik untuk mempelajarinya. Wajar jika orang pada umumnya kurang memperhatikan hal tersebut sehingga berimbas pada desainer grafis yang profesinya kurang dihargai terutama di negeri ini.

desainer grafis graphic designer jasa layanan percetakan klien usaha bisnis modal jutaan omset pemasaran
Gambar via thebalance.com


Kedengarannya memang pahit dan sulit diterima bagi mereka yang berprofesi sebagai desainer grafis. Tapi itulah realita yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Bagi desainer grafis yang cukup 'beruntung', mereka bisa mendapatkan job dari klien besar dengan fee design yang besar pula. Namun persentase desainer grafis yang 'beruntung' tersebut tidaklah banyak.

Kenyataan yang sering terjadi, klien enggan mengeluarkan duit untuk membayar desain. Apalagi jika klien yang ditemui merupakan pengusaha perorangan atau UMKM yang budget-nya terbilang minim. Dengan modal bisnis yang pas-pasan tersebut, jangankan membayar seorang desainer grafis untuk jasa desain, membayar sewa tempat usaha atau membayar tunggakan kredit saja mereka kelimpungan. Bahkan tak jarang, perusahaan yang sudah mapan dengan gedung mentereng pun ada pula yang malas membayar jasa desain grafis.

Mendapatkan klien adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh desainer grafis. Segala macam cara dilakukan agar memperoleh klien sebanyak mungkin. Tapi tunggu dulu, ketika giliran mendapatkan klien bukan berarti sang desainer grafis mendapatkan jaminan kebahagiaan. Jika mendapatkan klien yang 'pas', sang desainer grafis bisa memiliki ekspektasi yang tinggi. Namun itu tidak selamanya terjadi. Banyak hal tidak mengenakkan yang seringkali dialami oleh desainer grafis namun tak banyak yang mau mengungkapkannya. Mari kita bongkar kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan klien terhadap desainer grafis berikut ini.

Baca juga: Jasa-Jasa Desain Grafis Profesional Buat Korporat maupun Individu

1) Tidak menanyakan biaya jasa desain grafis


"Berapa biaya kalo cetak brosur?" Pertanyaan seperti itu terdengar familiar bagi desainer grafis. Kedengarannya tidak ada yang salah pada pertanyaan itu. Tapi coba kamu perhatikan sekali lagi, ia sama sekali tidak menanyakan biaya desain brosur. Artinya, si klien berharap hanya membayar biaya cetaknya saja sedangkan urusan desain layout sama sekali tidak ia pedulikan. Desain brosur yang 'berantakan' dan 'hancur-hancuran' tidak jadi soal yang penting ia bisa mendapatkan biaya cetak semurah mungkin. Toh, si klien juga tidak mengerti jika desain brosurnya 'hancur total'.

Alih-alih membayar biaya desain brosur, ia malah justru 'tega' menekan biaya cetak semurah-murahnya. Lalu bagaimana dengan nasib desainer grafis? Melihat kondisi seperti itu, jangan berharap si klien peduli dengan nasib desainer grafis yang desainnya tidak dihargai. Namun, si desainer grafis masih mampu berkilah dan menghibur diri dengan menganggap bahwa jasa desain sudah dimasukkan ke dalam biaya cetak. Hal itu merupakan strategi desainer grafis agar si klien mau menerima dan tidak 'shock' dengan adanya biaya desain. Tentu saja, strategi ini tidak diberitahukan kepada klien dan hanya desainer grafis lah yang tahu.

2) Tidak memberikan briefing yang jelas


"Mas, saya pengin desainnya yang elegan dan eksklusif!" Itulah pesan sangat singkat sekali si klien terhadap desainer grafis dan ia pun segera menutup telepon secepat mungkin. Kata sifat seperti 'elegan' dan 'eksklusif' maupun kata-kata lainnya yang bersifat abstrak tentu saja membuat desainer grafis mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya. Apa maksudnya 'elegan' dan 'eksklusif'? Duh! Jangan berharap mendapatkan jawaban yang pasti dari klien dan pertanyaan itu tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan.

Namun hebatnya, sang desainer grafis masih memiliki jurus andalan yang disimpan dan hanya dikeluarkan jika ia berada dalam kondisi sangat terdesak. Ternyata, desainer grafis tidak hanya cakap dalam mendesain tapi ia juga memiliki keahlian untuk meraba-raba pikiran klien. Betapa luar biasanya kemampuan tersembunyi sang desainer grafis ini yang tak banyak diketahui orang.





3) Tidak mau tahu terhadap proses desain


"Loh, mas ini kok jadinya begini?" Tiba-tiba seisi dunia seperti bergoncang dengan dahsyatnya mendengar selorohan sang klien yang menggetarkan tersebut. Sang desainer grafis yang sedang asyik-asyiknya memainkan mouse di depan layar komputer pun sontak terhenyak dan hampir saja memecahkan gelas berisi kopi yang sudah separuh diminumnya. Dunia pun sepertinya menjadi gelap dan suram namun ia tetap berusaha berpikir jernih dan berharap tidak ada kesalahan fatal yang terjadi.

Memang, proses desain mulai dari draft hingga final artwork menjadi tugas dan tanggung jawab desainer grafis. Namun, proses itu tidak sepenuhnya berlangsung tanpa adanya campur tangan dari klien. Desainer grafis bekerja sama dengan klien untuk memenuhi keinginan mereka dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh klien tersebut. Dan, klien pun sudah seharusnya terlibat atau melibatkan diri dalam proses tersebut agar desain yang dihasilkan benar-benar sesuai keinginan. Kesibukan bukanlah menjadi alasan bagi klien untuk tidak mencek desain yang disodorkan oleh desainer grafis.

4) Tidak memberikan apresiasi yang layak terhadap karya desainer grafis


"Cuma gini aja kok mahal!" Tanpa disadari, ucapan sang klien itu seperti pisau yang menyanyat hati sang desainer grafis. Pedih dan tak terperi rasa sakitnya. Tapi si klien sepertinya sudah mati hatinya, sehingga tidak memikirkan betapa yang namanya ide itu tidak ternilai harganya. Sesederhana apapun desain itu tidak akan terwujud tanpa kreativitas sang desainer grafis. Dan, itu tercipta melalui proses pemikiran, penggalian ide, dan perenungan yang tidak muncul secara tiba-tiba.

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 1, banyak klien yang bahkan tidak menanyakan biaya desain. Bagi mereka, desain yang bagus tidaklah menjadi prioritas yang penting bisa menekan biaya sehemat mungkin. Tipe klien seperti ini tentu tidak bisa diharapkan agar bisa menghargai karya sang desainer grafis. Meski demikian, masih ada orang yang rela membayar biaya desain dengan harga tertentu. Namun, besaran biaya desain yang ditawarkan tidak bisa terlalu tinggi jika tidak ingin mendapat ucapan seperti di atas.

5) Tidak membayar jasa desain grafis


Dari sekian kesalahan yang ada, inilah kesalahan terbesar klien terhadap desainer grafis. Setelah berjam-jam bahkan berhari-hari lamanya sang desainer grafis mengerjakan desain, ia berharap suatu saat nanti mendapatkan ganjaran yang pantas atas kerja keras yang telah dilakukannya. Namun apa daya, harapan tinggallah harapan. Si klien yang awalnya sangat antusias meminta bantuan dari desainer grafis tiba-tiba saja menghilang ditelan bumi, tanpa kabar, dan tanpa alasan yang bisa diterima.

Keringat sang desainer grafis yang mengucur dan ide-ide kreatif yang ditumpahkannya seolah menjadi sia-sia. Si klien berdalih desain yang diajukan tidak cocok atau harga cetak terlalu mahal. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila tidak ada kesepakatan atau perjanjian di awal antara desainer grafis dengan klien. Jika hal ini terjadi maka bisa ditebak jalan ceritanya, yang menjadi korban utama adalah desainer grafis karena ia telah bekerja namun tidak mendapatkan bayaran sepeser pun atas pekerjaan yang telah diselesaikannya. Sang desainer grafis telah menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap klien, namun klien dengan tanpa rasa berdosa menyia-nyiakan kepercayaan tersebut.

Kenyataan kadangkala tidak sesuai dengan harapan. Memang terdengar ironis, tapi itulah realita yang yang harus dihadapi oleh desainer grafis. Meski berbagai rintangan menghadang namun bukan berarti semangat untuk tetap berkarya pupus. (Prasetya DH)





Artikel Menarik:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.