Header Ads

Hindari 10 Hal ini Agar Bisnis Kamu Jauh dari Kata Gagal

Hindari 10 Hal ini Agar Bisnis Kamu Jauh dari Kata Gagal

I have learned from both my own successes and failures and those of many others that it’s the boring stuff that matters the most. Startup success is not a consequence of good genes or being in the right place at the right time. Startup success can be engineered by following the right process, which means it can be learned, which means it can be taught. — Eric Ries

Bukan tanpa alasan Eric Ries mengambil kesimpulan tersebut dalam bukunya yang berjudul "The Lean Startup". Eric menyadari benar bahwa kesuksesan sebuah bisnis maupun startup bukanlah persoalan keberuntungan atau konsekuensi dari gen yang baik saja. Lebih dari itu, kesuksesan sebuah usaha atau startup bisa tercapai dengan mengikuti proses bisnis yang tepat, yang berarti bisa dipelajari.

Kita memang tidak sedang membicarakan resensi atau review dari buku Eric Ries. Tetapi, pengalaman kegagalan Eric membangun bisnis Catalyst Recruiting - sebuah forum online khusus mahasiswa untuk berjejaring dengan calon perusahaan – saat kuliah di Yale University bisa dijadikan pelajaran berharga bagi para pengusaha pemula.

alasan mengapa kenapa pengusaha pebisnis perusahaan gagal bangkrut omset penjualan pendapatan menurun tips trik cara mengatasi studi kasus strategi pemasaran marketing sales penjualan
Gambar via zdnet.com


Menjadi pebisnis atau pengusaha bukan persoalan gengsi atau status sosial semata. Bahkan, sebagian besar orang menganggap menjadi seorang pengusaha itu glamor. Banyak pula pebisnis baru yang hanya menginginkan keglamoran tanpa mau bagian susahnya. Padahal, sesungguhnya petualangan dan hidup seorang pengusaha jauh dari kata glamor. Menjadi seorang pengusaha jauh lebih berat daripada menjadi karyawan dengan jam kerja 9 – 5. Pengusaha memiliki jam kerja yang jauh tak terbatas, bahkan hingga melebihi 40 jam per minggu.

Bukan hanya bekerja lebih keras saja, menjadi seorang pengusaha juga dituntut untuk memiliki beberapa karakter wajib seperti ulet, passionate, serta memiliki visi dan kepercayaan diri yang tinggi. Mengapa? Karena menjalankan sebuah bisnis itu ibarat berlari ultra marathon. Perjuangan menjalankan bisnis itu seringkali berbahaya, penuh dengan risiko dan pengorbanan serta melelahkan. Pilihan menjadi seorang pengusaha berarti harus dapat hidup dalam ketidakpastian dan mendorong untuk melalui semua rintangan-rintangan yang akan menghadang selama bertahun-tahun. Belum lagi, bayangan akan kegagalan usaha yang biasanya ditakuti oleh para pengusaha.

Faktanya, 21% bisnis gagal dalam tahun pertama mereka, 52% gagal pada tahun kelima, dan hanya 33% yang benar-benar bertahan pada tahun kesepuluh. Bahkan, Thomas Oppong, founder AllTopStartups - sebuah situs referensi untuk startup dan pengusaha membuat sebuah buku berjudul "50 Startup Founders Reveal Why Their Startups Failed". Buku ini mengupas tentang pelajaran dari kegagalan lebih dari 50 startup di Amerika Serikat.

Kalian yang saat ini berprofesi sebagai pengusaha, tentu saja tak ingin menjadi bagian dari pebisnis yang gagal ini, bukan? Makanya, simak 10 alasan mengapa sebuah usaha atau bisnis yang dijalani oleh pebisnis pemula berakhir pada kegagalan alias bangkrut berikut ini.

1. Tidak memiliki tujuan yang jelas


Menjalankan sebuah bisnis selalu membutuhkan arahan dan tujuan. Pada tahap awal sebuah perusahaan baru, mudah bagi pebisnis untuk mengidentifikasi tujuan mereka. Tapi, bila keadaan berubah atau tidak sesuai rencana, mereka bisa kehilangan visinya.

Sebuah usaha membutuhkan visi yang kuat dan jelas agar bisa bertahan dan tetap kompetitif. Pasar selalu berubah dan sebagai pebisnis harus memiliki strategi yang jelas untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Bisnis yang tidak memikirkan masa depan akan cenderung tetap berpegang pada status quo – dan berakibat pada kehancuran bisnis.

2. Tidak ada rencana bisnis (business plan) tertulis


Kunci menjadi seorang pengusaha sukses adalah disiplin. Salah satunya adalah disiplin menuliskan rencana bisnis. Disiplin menuliskan sebuah rencana adalah cara terbaik untuk memastikan kamu benar-benar mengerti bagaimana mengubah ide kamu menjadi sebuah bisnis. Inilah sebabnya mengapa meluangkan waktu untuk membuat rencana bisnis yang komprehensif sangat penting. Tidak hanya itu, rencana bisnis yang rinci seringkali menjadi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana dari investor di masa depan.

Studi dari CB Insights tentang startup menunjukkan bahwa 17% pengusaha gagal karena mereka tidak memiliki model bisnis. Hasil dari sebuah survei terhadap usaha kecil-menengah yang dilakukan oleh CCH, sebuah perusahaan perangkat lunak akuntansi Australia, mengungkapkan persentase yang lebih tinggi (50%) bisnis gagal karena rencana bisnis yang dirancang dengan buruk, atau justru sama sekali tidak ada rencana bisnis.

3. Berpikir tidak memiliki kompetitor langsung


Kegembiraan tentang produk atau bisnis baru seringkali membuat para pebisnis pemula berpikir bahwa mereka tidak memiliki kompetitor langsung. Atau bahkan lebih buruk lagi, mereka mengira bahwa produk mereka jauh berada di atas pesaingnya. Padahal kenyataannya, sangat jarang sebuah bisnis tidak memiliki pesaing langsung.

Kecuali kalau kamu telah menemukan atau memproduksi sebuah produk atau layanan yang sama sekali baru, pasti ada seseorang yang sudah memiliki pangsa pasar meskipun niche. Untuk itu, sebelum membangun bisnis, ada baiknya melakukan due diligence untuk mengetahui model bisnis perusahaan dan bagaimana dapat membedakan bisnis kamu dengan yang lainnya.

4. Pasar sudah terlalu ramai


Tidak memiliki pesaing adalah sebuah tanda bahaya yang berarti mungkin berarti tidak ada pasar. Namun, menemukan sepuluh atau lebih pesaing dengan mesin pencarian Google, berarti ini pertanda buruk. Pasar tersebut diibaratkan seperti sebuah tempat yang penuh sesak.

Ingat bahwa raksasa yang tidur akan terbangun jika usaha kamu memang menunjukkan daya tarik tersendiri baik bagi konsumen maupun pasar. Jadi, jangan berasumsi bahwa Microsoft atau Proctor & Gamble terlalu besar dan lambat untuk kamu khawatirkan.

5. Berpikir bisa melakukan semuanya sendiri


Memiliki sebuah bisnis, akan melelahkan pada awal merintisnya. Sebagai seorang pengusaha, kamu akan menghadapi situasi dimana harus memakai beberapa topi atau menjalankan beberapa peran sekaligus (multi-tasking). Ternyata, studi menunjukkan multi-tasking merupakan metode kerja yang tidak efektif dan secara kesehatan berisiko mengecilkan otak kamu. Keahlian kamu dalam beberapa hal memang sangat penting bagi bisnis kamu.

Tapi, tidak mungkin untuk kamu mengerjakan beragam peran seperti menjadi manajer terbaik, SEO guru, web developer, keuangan, dan manajer sumber daya manusia semuanya sekaligus. Untuk itu, kamu harus mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada orang yang berkompeten. Rekrut dengan bijak dan jangan menjadi micro manager. Selain itu, memiliki konsultan atau mentor berpengalaman juga bermanfaat lho untuk pengusaha. Karena, keberadaan mentor atau konsultan ini bisa memberi perspektif objektif yang sangat dibutuhkan pada bisnis dan pasar usaha kamu.





Baca juga: Kenapa Perusahaan Bisa Merugi? Pelajari 10 Penyebabnya Agar Terhindar dari Ancaman Kebangkrutan

6. Tidak menetapkan tujuan yang realistis


Seorang pengusaha newbie biasanya cenderung terpesona dengan "gagasan besar" mereka. Namun sayangnya, mereka bekerja tanpa rencana yang solid. Pada kenyataannya, untuk bisa menjadi pengusaha sukses, kamu harus menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai.

Caranya? Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang, dan pastikan tujuan tersebut secara spesifik. Jangan hanya mengatakan tujuan hampa seperti, "Aku ingin menghasilkan US$1 juta tahun ini." Buat tujuan yang masuk akal, lalu tentukan langkah spesifik apa yang perlu diambil untuk mencapai tujuan tersebut.

7. Memilih bidang yang tidak diminati dan diketahui


Bagi pebisnis pemula, memulai sebuah bisnis bisa jadi sebuah lompatan besar ke dalam hal yang tidak diketahui. Banyak pebisnis pemula yang bahkan tidak memiliki pengalaman di industri tertentu sebelum memulai bisnis mereka. Mereka kemudian seperti menemukan jati diri mereka sendiri serta mengatasi masalah yang tidak pernah mereka duga dalam industri yang mereka tidak benar-benar mengerti.

Apakah ada passion atau bahkan gairah terhadap produk atau usaha kamu? Pertanyaan selanjutnya, apakah gairah ini cukup memiliki daya tahan, bahkan ketika kamu mulai merasakan ketegangan dan kelelahan karena terlalu banyak bekerja hingga stres melanda karena kesulitan keuangan? Kurangnya minat pebisnis terhadap produk mereka membuat mereka sulit untuk termotivasi dan mempertahankan tingkat energi yang sama selama 3 tahun yang dibutuhkan untuk membangun perusahaan.

8. Menyepelekan keuangan perusahaan


Kamu sebagai pemilik bisnis merasa bahwa bisnis kamu nampaknya baik-baik saja. Tapi, apakah itu benar-benar baik dan menghasilkan keuntungan atau sebaliknya justru kehilangan uang? Akuntansi mungkin tidak glamor seperti pengembangan produk dan pemasaran, tapi ini jelas salah satu aspek terpenting dari perusahaan pemula. Adanya sistem akuntansi dan perencanaan keuangan dapat membantu perusahaan mengidentifikasi masalah arus kas sebelum terlambat.

Turnaround Society memperkirakan bahwa masalah likuiditas dan arus kas berkontribusi terhadap kegagalan 27,6% bisnis, dan perencanaan keuangan yang buruk berkontribusi pada 15,2% bisnis yang gagal. Dan sebaliknya, para peneliti Stanford menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan sistem pemantauan keuangan sejak awal tumbuh lebih cepat dalam pendapatan dan jumlah karyawan.

9. Tidak tahu harga untuk produk atau layanan yang ditawarkan


Banyak sekali pengusaha membuat kesalahan dengan meremehkan atau menilai terlalu tinggi berapa banyak calon pelanggan yang akan membayar untuk apa yang mereka tawarkan. Perusahaan konsultan manajemen Simon-Kucher & Partners melakukan survei terhadap 1.600 eksekutif dan manajer. Hasilnya menunjukkan bahwa 72% produk baru tidak memenuhi target pendapatan mereka, yang menunjukkan bahwa bisnis dan startup yang mapan sama-sama dapat memutuskan hubungan antara sasaran penjualan dan laba bersih mereka.

Dalam studi CB Insights, 18% responden menyatakan bahwa kegagalan mereka disebabkan oleh masalah harga dan biaya. Penentuan harga memang sangat rumit. Lakukan benchmarking kapanpun kamu bisa lakukan. Untuk usaha baru, tetapkan harga sedikit lebih rendah dari pasar, tetapi tetap pertahankan keuntungan. Hal ini berguna untuk membuktikan nilai bisnis kamu. Selanjutnya, kamu bisa menaikkan harga dari waktu ke waktu yang disertai dengan peningkatan layanan atau produk juga.

10. Terlalu mudah menyerah


Penyebab kegagalan sebuah usaha yang paling umum dan banyak adalah pengusaha merasa lelah, menyerah, dan menutup perusahaan. Meskipun mengalami kemunduran, banyak pengusaha sukses seperti Steve Jobs dan Thomas Edison terus menyingkirkan keraguan mereka sampai mereka menemukan kesuksesan.

Memulai sebuah bisnis baru itu selalu menakutkan. Dan, bisnis memang bukan untuk orang yang lemah. Ketakutan akan kegagalan dan penolakan serta terlalu mudah menyerah bisa dimengerti. Tapi, membiarkan kemampuan kamu terhalangi dengan rasa takut dan mudah menyerah dapat secara signifikan menghambat kemajuan bisnis. (Marthapuri Dwi Utari)





Artikel Menarik:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.