Header Ads

Kenapa Perusahaan Bisa Merugi? Pelajari 10 Penyebabnya Agar Terhindar dari Ancaman Kebangkrutan

Kenapa Perusahaan Bisa Merugi? Pelajari 10 Penyebabnya Agar Terhindar dari Ancaman Kebangkrutan — Rasanya, semua orang tahu dan paham bahwa membangun sebuah bisnis sangat berisiko. Faktanya, sekitar 49% bisnis gagal dalam lima tahun pertama mereka dan sekitar 30% bisnis bahkan tidak berhasil melewati dua tahun pertama. Beberapa industri tertentu bahkan sangat berisiko dan memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi.

Mungkin kalian juga belum lupa saat perusahaan jamu legendaris di Indonesia – PT Nyonya Meneer tiba-tiba mengumumkan kebangkrutannya akibat ketidakmampuan membayar utang perusahaan. Padahal, perusahaan yang terkenal dengan tagline "Berdiri sejak tahun 1919" ini memiliki pangsa pasar yang luas tak hanya di Indonesia saja, tapi hingga ke pasar internasional mulai dari Taiwan, Malaysia, Brunei, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Banyak analisis yang menyebutkan kebangkrutan Nyonya Meneer ini disebabkan oleh kesalahan pengelolaan operasional dan manajemen perusahaan. Termasuk juga ketidakmampuan bersaing dengan produk sejenis serta jamu ilegal yang banyak beredar dan inovasi serta penggunaan IT yang terbilang minimal juga disebut-sebut turut andil dalam kebangkrutan ini.

Lalu, masih di tahun yang sama, atau tepatnya Juni 2017, tempat nongkrong anak muda alias Seven Eleven (Sevel) juga mengumumkan kebangkrutannya. Jangan-jangan kalian termasuk anak nongkrong Sevel yang ikut merasa kehilangan paska tutupnya Sevel? Rhenald Kasali, pakar marketing kenamaan, sempat memberikan analisis tajam terkait ambruknya Sevel dalam persaingan minimarket di Indonesia ini.

alasan penyebab kenapa pebisnis perusahaan gagal bangkrut tips trik strategi cara mengatasi penyelesaian solusi mengatasi pailit utang kredit macet latar belakang contoh studi kasus bahan referensi
Gambar via thebalance.com

Menurut Rhenald, regulator dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Perdagangan tidak memahami model bisnis Sevel dan belum ada peraturan di Indonesia yang memfasilitasi bisnis model seperti Sevel. Sevel sendiri memiliki model bisnis sebagai convenience store yang juga menyediakan makanan siap saji dengan area tempat duduk serta fasilitas wifi gratis. Di sisi lain, model bisnis ini membutuhkan biaya investasi serta operasional yang cukup tinggi sehingga menggerus keuangan perusahaan.

Selain kedua korporasi besar ini, sudah ada banyak perusahaan yang juga mengalami kegagalan. Perusahaan penyedia jasa layanan penerbangan juga tak luput dari bangkrut, bahkan sudah beberapa maskapai penerbangan yang terpaksa gulung tikar. Sebut saja maskapai penerbangan Bouraq Airlines, Sempati Air, Indonesian Airlines, Linus Airways, Batavia Air, Adam Air, dan terakhir adalah Mandala Airlines. Belum lagi perusahaan di bidang lainnya yang juga mengalami kebangkrutan.

Kebangkrutan yang Melanda Korporasi di Luar Negeri


Ternyata, bangkrut alias gulung tikar tidak hanya dialami di Indonesia saja. Di dunia, sudah banyak korporasi besar bahkan pemimpin di industri tertentu yang harus bertekuk lutut menyerah untuk menutup bisnisnya. Salah satu yang cukup menghebohkan adalah saat Yahoo menyatakan bangkrut dan membiarkan perusahaan ini diakuisisi oleh Verizon – perusahaan telekomunikasi terbesar di Amerika senilai US$4,48 miliar pada Juli 2016 silam.

Padahal, siapa yang tak mengenal Yahoo? Pioneer dan raja internet yang didirikan pada tahun 1994 ini disebut melakukan kesalahan strategi yang menyebabkan tumbangnya bisnis ini. Yahoo disebut mengalami krisis jati diri antara menjadi perusahaan teknologi atau media, sehingga membuat Yahoo juga mengalami kegagalan dalam mengakuisisi Google dan Facebook. Selain itu, perkembangan dunia internet yang semakin pesat membuat Yahoo mulai kalah saing serta kian meredup dengan keberadaan perusahaan-perusahaan digital baru.

Selain Yahoo, kalian yang ngaku sebagai penggemar fotografi pasti sempat mengenal nama Kodak. Ya, Kodak adalah salah satu pemain utama dalam dunia film, kamera, industri percetakan dan bahan kimia selama lebih dari 125 tahun. Didirikan pada tahun 1888 oleh George Eastman, Kodak sempat menguasai 90% penjualan film dan 85% penjualan kamera di Amerika selama tahun 1976. Kegagalan penjualan fotografi film serta keterlambatan transisi dari fotografi manual ke bidang fotografi digital membuat raksasa dunia fotografi ini harus menyerah pada kebangkrutan di tahun 2012.

Padahal, sejatinya Kodak telah mengembangkan kamera digital sejak tahun 1975. Sayangnya, Kodak mengalami ketakutan bila keberadaan teknologi kamera digital tersebut akan mengancam penjualan film yang menjadi pemasukan utama Kodak. Akibatnya, Kodak gagal mengantisipasi pesatnya perkembangan kamera digital dan gagal bersaing dengan kompetitor asal Asia seperti Sony, Canon, dan Nikon. Perusahaan raksasa ini pun harus menyerah saat kamera digital mulai tergantikan dengan keberadaan kamera smartphone serta tablet.

Tidak hanya perusahaan manufaktur seperti Kodak dan perusahaan internet seperti Yahoo saja yang pernah mengalami kebangkrutan. Industri perbankan pun ternyata tidak luput dari bahaya dan ancaman kebangkrutan. Sebut saja Lehman Brothers, sebuah investment bank di Amerika yang kebangkrutannya sempat menggemparkan jagat industri keuangan dunia ini. Bank ini bangkrut pada bulan September 2008 dengan aset yang ditaksir bernilai sekitar US$691 miliar.

Bangkrutnya Lehman Brothers ini disebabkan kekacauan manajemen perusahaan karena adanya dua kubu yang saling berbeda pandangan. Selain itu, krisis subprime mortgage juga menjadi penyebab kolapsnya Lehman Brothers karena jumlah subprime dan surat utang berisiko tinggi beragun aset yang terlalu banyak. Konon, kolapsnya Lehman Brothers ini adalah puncak krisis Amerika Serikat serta kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS.

Lalu, disusul kebangkrutan MF Global Holdings, sebuah perusahaan sekuritas yang sejatinya didirikan oleh James Man pada tahun 1783 ini juga mengalami kebangkrutan pada November 2011. Kebangkrutan perusahaan derivatif ini tak lain merupakan dampak dari adanya krisis Eropa. Kekhawatiran akibat banyaknya surat utang Eropa yang dipegang oleh MF Global Holdings membuat para mitra bisnisnya mundur dan meninggalkan MF Global. Akibat mundurnya mitra mereka, perusahaan sekuritas itu kekurangan dana segar dan menyerah untuk gulung tikar.

Mengapa Perusahaan Bisa Bangkrut?


Banyaknya korporasi besar dan legendaris yang mengalami kebangkrutan ini pasti membuat kamu bertanya-tanya. Perusahaan besar dan sudah melegenda saja ternyata tidak luput dari ancaman kebangkrutan. Lalu, apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Yuk, kita kulik seputar penyebab kebangkrutan korporasi ini.

Kebangkrutan (bankcruptcy) adalah kondisi di mana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kebangkrutan sebuah korporasi sejatinya akan menimbulkan kerugian pada berbagai pihak. Kerugian ini terjadi kepada antara lain pemberi pinjaman karena tidak terbayarnya bunga maupun pokok pinjamannya, investor yang menyebabkan turunnya atau bahkan tidak lakunya investasi pada saham atau obligasi perusahaan yang bangkrut, karyawan karena adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta manajemen itu sendiri.

Bagi manajemen, gulung tikar artinya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Kebangkrutan berarti menimbulkan biaya langsung yang meliputi biaya akuntan dan penasihat hukum maupun tidak langsung yang meliputi hilangnya kesempatan penjualan dan keuntungan karena adanya batasan yang diberlakukan oleh pengadilan.

Secara umum, kegagalan bisnis dapat disebabkan oleh dua faktor utama yang mendasarinya. Pertama, adalah faktor internal atau kegagalan yang disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam perusahaan itu sendiri. Kedua, adalah faktor eksternal di mana penyebab kegagalan berasal dari luar perusahaan yang berkaitan langsung dengan perusahaan atau bahkan lingkungan secara global.





Baca juga: Cara Membangun Bisnis Start Up: 5 Langkah yang Bisa Dilakukan dan 4 Risiko yang Perlu Diwaspadai

Faktor Internal


Faktor internal sendiri memiliki banyak komponen di dalamnya, seperti beberapa di antaranya adalah:

1. Model bisnis yang tidak baik


Model bisnis adalah metode di mana perusahaan mengembangkan dan menciptakan nilai bagi pelanggannya. Ini adalah elemen penting dari strategi inti perusahaan. Namun, jika model bisnis tidak solid atau penuh dengan masalah, bisnis pada dasarnya berisiko tinggi. Model bisnis yang buruk bisa merusak perusahaan yang baik. Korporasi harus benar-benar memahami apa yang diinginkan pelanggan mereka, bagaimana menghasilkan dan menyampaikan produk atau layanan mereka secara efisien. Kunci untuk menghindari model bisnis yang buruk adalah menginvestasikan waktu dan uang dalam penelitian dan perencanaan yang solid.

2. Manajemen yang tidak efisien


Manajemen yang tidak efisien ini biasanya cenderung mengeluarkan biaya yang besar sementara pendapatan perusahaan tidak memadai sehingga akan mengakibatkan kerugian terus menerus. Kerugian ini merupakan indikasi adanya kesulitan keuangan yang pada akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya. Hal ini dapat terjadi disebabkan karena kurangnya kemampuan, pengalaman, keahlian serta ketrampilan manajemen perusahaan tersebut.

3. Persoalan keuangan perusahaan


Masalah keuangan perusahaan biasanya terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah modal perusahaan dengan jumlah utang piutangnya. Perusahaan dengan utang yang terlalu besar dapat mengakibatkan beban bunga yang besar sehingga memperkecil laba bahkan menyebabkan kerugian dan memberatkan perusahaan. Di sisi lain, piutang yang terlalu besar juga dapat merugikan perusahaan, karena modal kerja yang tertanam pada piutang terlalu besar. Akibatnya, perusahaan berkurang likuiditasnya atau bahkan mengalami kesulitan keuangan. Akan lebih parah lagi apabila para debitur perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya tepat waktu atau bahkan menjadi kredit macet.

4. Kecurangan pihak manajemen


Pada dasarnya, manajemen memegang peranan kunci yang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Manajemen yang baik biasanya akan mengakibatkan perusahaan menjadi baik pula. Sebaliknya, manajemen yang buruk bisa mengantarkan perusahaan ke dalam jurang kehancuran. Sebagai contoh, manajemen yang korup atau memberikan informasi yang salah atau palsu kepada pemegang saham atau investor tentu saja bisa mengakibatkan kebangkrutan. Kecurangan ini akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan yang pada akhirnya menghancurkan perusahaan.

5. Ketertinggalan teknologi dan inovasi


Menjadi pengusaha dituntut untuk harus mengerti betapa pentingnya inovasi serta peran teknologi terhadap bisnis mereka. Sistem komputer atau manufaktur yang mutakhir dapat menyederhanakan operasional bisnis dan menghemat jutaan dolar. Tapi, korporasi dengan teknologi usang sepertinya tidak akan memiliki keunggulan kompetitif cenderung dan tidak bertahan lama. Seperti halnya Kodak yang lamban dalam mengantisipasi perubahan fotografi digital yang akhirnya membuat perusahaan ini harus rela tergerus oleh perusahaan pesaing yang jauh lebih inovatif serta agresif.

Faktor Eksternal


Selain kelima faktor internal, perusahaan bisa terancam kolaps atau bangkrut disebabkan oleh faktor eksternal baik yang berkaitan langsung dengan perusahaan ataupun tidak. Ada lima faktor eksternal yang bisa menyebabkan perusahaan gulung tikar, di antaranya:

1. Persoalan legalitas atau hukum


Masalah hukum bisa sangat mahal dan bisa mengakibatkan penutupan bisnis paksa atau bahkan kebangkrutan. Hal ini wajar saja mengingat bisnis memiliki risiko di berbagai sisi. Selain biaya pengadilan sendiri, pertarungan hukum bisa memiliki dampak yang awet. Setelah perusahaan dituntut, mereka mungkin akan kehilangan kepercayaan dari pelanggan, kreditor, dan karyawan. Selain itu, bisnis juga rentan terhadap perubahan peraturan pemerintah. Jika pemerintah memutuskan untuk lebih tegas dalam praktik tertentu, mereka dapat memberlakukan kebijakan yang akan meningkatkan biaya bagi banyak bisnis.

Beberapa bisnis mungkin lebih rentan terhadap perubahan peraturan karena ukuran bisnis mereka atau cara mereka beroperasi. Dikombinasikan dengan faktor lain, perubahan peraturan pemerintah dapat menyebabkan atau berkontribusi terhadap kegagalan bisnis. Seperti halnya yang terjadi pada kasus bangkrutnya Sevel beberapa waktu lalu.

2. Kompetisi bisnis yang semakin ketat


Saat ini, persaingan bisnis semakin ketat sehingga menuntut perusahaan untuk selalu berupaya memperbaiki diri agar bisa bersaing dengan perusahaan lain dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan ketatnya persaingan, perusahaan dituntut untuk selalu memperbaiki produk dan layanan yang dihasilkan serta memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi pelanggan.

3. Hubungan yang tidak harmonis dengan kreditor


Hal ini ternyata bisa berakibat fatal terhadap keberlangsungan hidup sebuah perusahaan. Apalagi, hal ini diperkuat dengan dasar hukum yang sah dan berlaku di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No.4 tahun 1998 disebutkan bahwa kreditor bisa memailitkan perusahaan. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan selalu dituntut untuk bisa melakukan pengelolaan utangnya dengan baik serta membina hubungan baik dengan kreditor.

4. Ketidakstabilan perekonomian global


Kondisi perekonomian secara global turut mempengaruhi kehidupan sebuah perusahaan. Untuk itu, persoalan ini juga harus selalu diantisipasi secara responsif oleh perusahaan. Apalagi di era yang semakin terpadunya perekonomian dengan negara-negara lain, perkembangan perekonomian global juga menjadi salah satu faktor yang harus selalu diantisipasi oleh perusahaan. Kasus MF Global Holdings setidaknya bisa menjadi salah satu pelajaran bisnis yang berharga agar kebangkrutan tidak lagi terjadi di dunia korporasi.

5. Kegagalan mengantisipasi perubahan


Tren pasar selalu berubah seperti layaknya mode yang kerap datang dan pergi. Namun, bisnis atau perusahaan banyak yang gagal dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan minat dan harapan pelanggan, yang berarti paling buruk seluruh lini produk mereka bisa menjadi usang. Dalam kasus ini, perubahan drastis dalam struktur bisnis dan model mungkin diperlukan.

Perubahan juga bisa mencakup pada infrastruktur sebuah bisnis. Sebagai contoh, IBM menemukan bahwa perusahaan dalam posisi di mana ia tidak lagi dapat bersaing dalam industri PC yang pernah mendominasi. Untungnya, perusahaan ini cukup pintar untuk menyesuaikan strategi bisnis intinya dan menemukan pasar baru.

Ternyata, menjalankan bisnis itu penuh tantangan serta tak pernah mudah. Apalagi untuk mempertahankan pada posisi yang baik bahkan menguntungkan. Menjalankan bisnis itu ibarat sebuah mobil. Bila satu bagian rusak atau berhenti bekerja maka berakibat pada semua komponen akan terhenti atau macet. Untuk itu, memenangkan persaingan bisnis dibutuhkan kepemimpinan yang mumpuni, pembiayaan atau modal yang memadai, tujuan yang terdefinisikan dengan baik, praktik bisnis serta manajemen yang efektif, dan sedikit keberuntungan. (Marthapuri Dwi Utari)





Artikel Menarik:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.