Header Ads

Cermati 9 Unsur Nilai Berita (News Value) untuk Penulisan Berita yang Layak Dipublikasikan di Media Massa

Cermati 9 Unsur Nilai Berita (News Value) untuk Penulisan Berita yang Layak Dipublikasikan di Media Massa — Jurnalisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya atau kewartawanan. Sementara itu, banyak yang mendefinisikan jurnalisme sebagai proses pengerjaan sebuah karya-karya, pengumpulan data, atau informasi yang selanjutnya karya tersebut melewati proses penyuntingan hingga menjadi sebuah berita yang layak dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Secara singkat, jurnalisme adalah bercerita dalam bentuk berita dengan suatu tujuan. Dalam cerita atau berita tersebut, selalu tersirat pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembacanya. Selain itu, terdapat sebuah tema yang diangkat dari satu peristiwa. Yang tak kalah penting, yaitu dalam berita harus terdapat karakteristik intrinsik yang dikenal sebagai nilai berita (news value). Nilai berita inilah yang menjadi tolok ukur yang berguna dan bisa diterapkan untuk menentukan kelayakan sebuah berita (newsworthy).

unsur elemen jenis macam contoh nilai berita news values surat kabar majalah tabloid situs online artikel feature teknik menulis wartawan jurnalis reporter pengertian definisi arti media massa
Gambar via fundrazr.com

Apa yang membuat sebuah cerita layak disebarkan, baik sebagai berita atau sebagai feature? A. Boyd menyatakan bahwa: "Jurnalisme berita memiliki seperangkat nilai yang disepakati secara luas, sering disebut sebagai ‘kelayakan berita' ...." Nilai berita ini tidak berlaku secara universal dan dapat bervariasi antara budaya yang berbeda.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara mengartikulasikan sebuah nilai berita? Dan, bagaimana seorang penulis dapat menemukannya dalam sebuah cerita yang mungkin hanya sesuai untuk newsletter perusahaan? Memang, tidak ada definisi yang sederhana, namun para jurnalis sering mempertimbangkan sembilan (9) faktor berikut sebagai kunci dalam menentukan nilai berita atau news value. Simak penjelasannya berikut ini.

1. Dampak / Konsekuensi (Impact)


Nilai berita harus mempertimbangkan tentang dampak, yaitu bagaimana berita ini akan mempengaruhi kehidupan pembaca serta masyarakat. Suatu peristiwa yang berpotensi mengakibatkan timbulnya rangkaian peristiwa yang mempengaruhi banyak orang, masuk ke dalam jenis layak berita. Konsekuensi atau dampak ini umumnya diterima sebagai nilai berita dan menjadi ukuran penting atau tidaknya suatu berita. Semua peristiwa yang layak berita jelas mempunyai konsekuensi atau dampak.

Sebagai contoh adalah sebuah pertandingan bola yang tentu saja dampak atau konsekuensinya tidak sebesar kampanye politik nasional. Sementara, sebuah perang memiliki konsekuensi yang paling besar, apalagi perang nuklir. Konsekuensi atau dampak bisa dipergunakan mengukur konflik, bencana serta kemajuan sesuatu. Sebuah kebakaran yang melalap sebuah rumah pribadi sangat kecil dampaknya dibanding dengan badai David yang menewaskan lebih dari seribu orang dan mengakibatkan ribuan orang kehilangan rumah, serta menghancurkan hampir semua panen nasional di Republik Dominika.

2. Aktualitas (Timelineness)


Salah satu unsur nilai berita adalah aktualitas. Peristiwa terkini memiliki nilai berita lebih tinggi daripada kejadian atau berita lama. Kualitas dari ketepatan waktu atau aktualitas ini adalah cerita yang menyediakan informasi baru yang terkini. Salah satu aset utama dari berita adalah kesegaran (freshness).

Tak hanya terkini, elemen dari aktualitas ini juga termasuk cerita atau berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Contoh dari aktualitas ini adalah kecelakaan lalu lintas yang terjadi hari ini pada jam sibuk akan lebih layak diberitakan daripada kecelakaan lalu lintas serupa yang terjadi seminggu lalu.

3. Daya Tarik (Magnitude)


Unsur nilai berita selanjutnya adalah daya tarik atau magnitude. Unsur ini sebenarnya hampir sama dengan dampak, namun magnitude di sini lebih menyangkut kepada sejumlah orang besar, prestasi besar, kehancuran yang besar, kemenangan besar, dan segala sesuatu yang besar. Unsur magnitude ini menggambarkan seberapa luas pengaruh sebuah peristiwa terhadap publik atau masyarakat luas.

Contoh magnitude ini adalah kerusakan pembangkit tenaga nuklir di Fukushima Jepang atau Chernobyl di Rusia yang mengakibatkan bencana radiasi di daerah sekitar, bencana tsunami Aceh di Indonesia. Begitu pula orang-orang yang kehilangan pekerjaan, para pekerja migran ilegal yang lantas menjadi masalah bagi negara. Demikian pula berita tentang kenaikan BBM yang selalu akan menjadi perhatian dan daya tarik bagi masyarakat.

4. Kedekatan (Proximity)


Ada dua hal tentang kedekatan sebagai nilai berita ini. Pertama, dekat secara fisik dan kedua adalah kedekatan secara emosional. Orang cenderung memiliki ketertarikan bila membaca berita yang peristiwa atau kejadiannya dekat dengan wilayahnya dan juga perasaan emosionalnya karena berdasarkan ikatan tertentu. Itulah mengapa cerita tentang kejadian dan situasi di sekitar rumah atau lokasi seseorang lebih layak diberitakan daripada kejadian yang berlangsung jauh.

Sebagai contoh, sebuah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kota pembaca memiliki kelayakan berita dibandingkan dengan kecelakaan serupa yang terjadi di kota lain. Contoh lainnya adalah jika 1.000 orang tenggelam akibat banjir di negara yang jauh, ceritanya memiliki nilai berita yang sama dengan sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana 100 orang tenggelam di Amerika Serikat. Namun, akan berbeda dengan cerita tentang 10 korban banjir di negara Indonesia.




Baca juga: Merangkai Kisah dan Cerita yang Memikat Pembaca Lewat Beragam Jenis Artikel Feature

5. Keanehan atau Keganjilan (Bizareness)


Jhon Bogart, Desk Editor kota dari harian The Sun di New York mengatakan sebuah gagasan klise dari surat kabar tentang nilai berita yaitu, “Bila anjing menggigit orang, itu bukan berita, tetapi bila orang mengigit anjing itu berita.” Namun, bagaimana bila yang digigit anjing itu adalah seorang presiden, atau anjing gelandangan/liar yang mengigit sejumlah orang sehingga menimbulkan kepanikan karena ketakutan terkena penyakit rabies? Jadi, sebenarnya gagasan di atas tidak seluruhnya akurat. Di sisi lain, gagasan itu sudah memberikan arti tersendiri.

Keganjilan yang kerap dilihat oleh pembaca dalam berita seperti tentang anak sapi yang berkepala dua atau kucing yang menempuh jarak puluhan kilometer mencari pemiliknya yang pindah ke kota lain karena kesetiaannya. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa digolongkan ke dalam kejadian yang luar biasa. Keanehan atau keganjilan yang masuk ke dalam kategori layak berita ini, biasanya merupakan kejadian-kejadian yang kebetulan, kejadian yang sangat kontras, cara hidup yang aneh, kebiasaan dan hobi yang tidak biasa, ketakhayulan termasuk menarik perhatian banyak pembaca. Unsur paling umum dari nilai berita ini adalah bahwa peristiwa itu ganjil atau tidak biasa.

6. Konflik (Conflict)


Mayoritas konflik memiliki kelayakan berita. Konflik fisik seperti perang atau perkelahian memiliki kelayakan berita karena biasanya diikuti dengan kerugian serta korban. Selain itu, manusia cenderung menyukai konflik, terutama konflik yang terjadi dalam dua kubu. Kekerasan itu sendiri mampu membangkitkan emosi dari yang menyaksikan atau yang membaca dan kemungkinan memiliki kepentingan langsung terhadap peristiwa tersebut.

Contoh lainnya adalah perkelahian di lapangan sepak bola yang dilanjutkan dengan perusakan-perusakan setelah pertandingan akibat kekalahan. Itulah mengapa, berita tentang perang, pembunuhan, kekerasan biasanya mendapat tempat di halaman muka (headline). Ternyata, tak hanya konflik fisik, konflik non fisik seperti perdebatan (konflik) mengenai pencemaran, reaktor nuklir dan ratusan isu yang menyangkut kualitas kehidupan manusia juga mendapatkan posisi yang penting dalam pemberitaan.

Namun, membuat sebuah berita yang berisi seputar konflik ini biasanya jauh lebih rumit. Untuk itu, penulis atau jurnalis dituntut untuk lebih teliti dalam penelitian konflik serta berhati-hati untuk secara akurat mewakili argumen dalam konflik tersebut.

7. Minat Insani (Human Interest)


Kalau kamu menemukan cerita di surat kabar yang bila dilihat sepintas tidak seperti berita karena tidak memenuhi unsur-unsur seperti konflik, dampak, progress dan bencana, keganjilan, atau nilai berita khusus lainnya berarti cerita itu disebut human interest atau feature. Nilai berita dari cerita-cerita ini merupakan kombinasi dari berbagai unsur yang sudah disebutkan seperti bencana, progres, konflik, dan sebagainya.

Sebenarnya, cerita human interest berisi nilai cerita (story value) dan bukan nilai berita (news value). Mayoritas cerita-cerita ini berisikan unsur keganjilan yang mungkin bisa disebut human novelties. Contohnya adalah kisah seorang kakek berumur 70 tahun yang kembali ke sekolah menengah untuk mendapatkan ijazah, seorang nenek yang menikah dengan pria berumur dua puluhan yang layak disebutnya sebagai cucu serta banyak lagi cerita menarik tentang manusia.

Biasanya, peristiwa yang diangkat dengan unsur human interest ini tidak berdiri sendiri. Untuk penulisan ini, penulis biasanya akan bertindak lebih dari sekedar mengumpulkan fakta peristiwa. Penulis biasanya akan menjelajahi lebih dalam mengenai unsur-unsur kemanusiaan dengan mengumpulkan bahan-bahan tambahan seperti yang menyangkut emosi, fakta, biografis, kejadian-kejadian yang dramatis, deskripsi, motivasi, ambisi, kerinduan, dan kesukaan dan ketidaksukaan umum di masyarakat. Semua ini bukan peristiwa, tetapi latar belakang dari peristiwa (the background of events).

8. Kemahsyuran dan Terkemuka (Prominence)


Praktik yang pada umumnya terjadi dan disetujui oleh para jurnalis bahwa nama membuat berita serta nama besar membuat berita jauh lebih besar. Harus ada tindakan atau perbuatan agar nama itu, baik yang besar maupun yang kecil bisa dan layak menjadi sebuah berita. Selalu ada aura berita di sekeliling orang-orang yang terkenal baik dari tokoh politik, selebritas, hingga atlet terkemuka.

Orang akan cenderung memperhatikan terhadap apa yang mereka lakukan atau katakan. Sehingga, mereka sering membuat berita karena ada konsekuensinya. Sebagai contoh, prediksi seorang pengamat ekonomi nasional tentu saja bisa mempengaruhi pasar modal. Demikian pula bila seorang pemimpin politik nasional yang berjabat tangan dengan seorang calon politik lokal akan berimbas pada meningkatnya derajat sang kandidat.

9. Kekinian (Currency)


Unsur kekinian ini adalah nilai berita yang menghubungkan dengan cerita yang menyinggung tentang isu atau topik yang tengah hangat dan disorot oleh publik dan masyarakat luas. Berita ini lebih menarik perhatian masyarakat daripada isu atau cerita yang tidak diminati oleh publik atau masyarakat luas. Contoh unsur kekinian ini adalah ditahun 1997 kematian putri Diana akibat kecelakaan sempat menjadi berita yang memenuhi unsur ini. Diikuti dengan berita tentang pemboman kota Oklahoma, lalu kasus Big Tobacco Money.

Biasanya, pada praktiknya, sebuah berita dapat menonjolkan sebuah nilai berita, namun dapat pula merangkum beberapa nilai berita dalam satu tulisan sekaligus. Dan biasanya, para jurnalis sebelum menulis berita akan mencari news value (kriteria layak berita) terlebih dahulu dengan mengacu kepada sembilan unsur tersebut di atas untuk bisa memilih apakah sebuah berita itu memang layak ditulis dan disajikan kepada masyarakat umum atau tidak.

Dengan menggunakan nilai berita ini dapat membantu penulis atau jurnalis untuk mengidentifikasi potensi terkuat dalam karyanya sehingga penulis dapat dengan cerdas memfokuskan kontennya ke genre publikasi tertentu. Selain itu, berita yang ditulis oleh jurnalis pun akan menjadi semakin menarik bila jurnalis menyadari betapa pentingnya penggunaan news value ini untuk menembak rasa keingintahuan pembaca. (Marthapuri Dwi Utari)




Artikel Menarik:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.