Karakteristik Generasi Milenial dalam Dunia Kerja yang Perlu Diketahui Para CEO dan Manajer

Karakteristik Generasi Milenial dalam Dunia Kerja yang Perlu Diketahui Para CEO dan Manajer — Akhir-akhir ini, apakah kamu sering mendengar perbincangan atau tulisan yang mengulas tentang perbedaan mendasar antar generasi? Seperti generasi X, generasi, Y, dan generasi Z. Kali ini, kami akan membahas karakteristik generasi Y yang sering disebut dengan generasi milenial.

Menurut Times Magazine, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada kurun waktu 1980-2000, yang saat ini berkisar pada usia 17 - 37 tahun. Apakah kamu termasuk generasi milenial juga? Kalau begitu, selamat! Loh, kok? Itu artinya kamu masuk sebagai 50 % penduduk usia produktif di Indonesia. Menurut data Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), tahun 2015 saja, jumlah milenial di Indonesia mencapai 84 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia yang 255 juta penduduk.


Loading...



Yoris Sebastian dalam bukunya "Generasi Langgas" mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia mengalami bonus demografi yang sama dengan Jepang tahun 1950-an. Hal ini bisa menjadi keuntungan ataupun beban bagi negara ini. Kalau kualitas SDM Indonesia tidak bisa berkontribusi, bonus demografi ini bisa menjadi beban. Sebaliknya, kalau kualitas SDM milenialnya bagus, ekonomi Indonesia diprediksi akan menjadi bagus pula.

Masih menurut Yoris Sebastian, Dilla Amran, dan Youth Lab yang berkolaborasi dalam Generasi Langgas, 2016, dapat dilihat bahwa milenial Indonesia terbagi menjadi 3 kelompok berdasar life cycle-nya.

karakteristik sifat kepribadian unik orang manusia generasi milenial kebiasaan perilaku consumer behavior cara memperlakukan potensi peluang pasar pembelian pertimbangan pemikiran pengertian definisi arti rentang usia
Gambar via linkedin.com

1. The student millenial


Mereka yang lahir pada tahun 1993 - 2000. Smartphone mulai merajalela saat mereka berumur 14 tahun ke bawah, sehingga penggunaan teknologi termasuk akses media sosial bagi mereka sudah merupakan penggunaan sehari-hari.

2. The working millenial


Mereka yang lahir pada tahun 1987 - 1993. Milenial tertua pada kelompok ini merasakan maraknya smartphone dan akses media sosial pada saat duduk di bangku SMA. Kelompok ini masih banyak yang memilih bekerja kantoran, meski inspirasi untuk menjadi pengusaha atau pebisnis sudah berkembang dan marak.

3. The family milenial


Mereka yang lahir pada 1980 - 1987. Mereka adalah generasi yang menjadi saksi perpindahan dunia analog ke dunia digital dan masih mengalami masa reformasi pada tahun 1998 yang kemudian mengubah banyak aspek di Indonesia. Kelompok ini sudah lebih matang dan memikirkan tentang rencana berkeluarga atau sedang menjalani fase membentuk sebuah keluarga kecil.

Bagaimana Karakteristik Generasi Milenial Sehari-hari?


Sebelum membahas bagaimana karakteristik milenial dalam dunia kerja, sebaiknya kamu perlu tahu dulu nih karakteristik generasi milenial secara umum dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ini bisa menjadi pijakan tentang mengapa mereka menjadi memiliki karakteristik yang berbeda dalam dunia kerja. Ini dia.

1. Selalu connected dengan gadget dan media sosial


Kamu yang termasuk generasi milenial pasti sekarang sudah mulai meninggalkan informasi dari layar kotak favorit di rumah dulu, yaitu televisi. Di era keterbukaan informasi saat ini, TV dinilai tak begitu banyak memberikan pilihan. Sehingga banyak milenial yang lebih memilih ponsel (smartphone) dibanding TV.

Pasalnya, TV cenderung satu arah dan “memaksa” generasi milenial untuk “menelan” apa saja yang disajikan. Padahal, milenial lebih percaya pada user generated content yang dibuat oleh perorangan yang bertebaran di dunia internet. Mereka merasa lebih kekinian dengan mendapatkan informasi dari Google, YouTube, dan media sosial lainnya. Ataupun lebih memperhatikan "suara-suara" di forum yang mereka ikuti.

Dari sini, ada kewajiban bagi milenial untuk selalu up to date lewat channel media sosial pribadinya, seperti Facebook, Instagram, Twitter, maupun YouTube. Itulah paling tidak empat media sosial yang pasti dimiliki oleh generasi milenial. Media sosial ini juga berfungsi sebagai saluran komunikasi di antara mereka.

Milenial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka, selain berbagai chat messenger populer seperti WhatsApp dan Line. Pertemuan tak harus dilakukan dengan tatap muka, bahkan sampai pada urusan diskusi dan rapat pun bisa dilakukan melalui gadget yang mereka punya dan hampir selalu menjadi most wanted item yang paling melekat ke manapun milenial melangkah.

Selain sebagai sarana komunikasi, media sosial juga termasuk sebagai sarana ekspresi bagi milenial untuk menunjukkan eksistensi dirinya kepada publik.

Dengan itu semua, praktis generasi milenial ini sangat berbeda dengan generasi X (generasi kakak-kakaknya) atau generasi baby boom (generasi orangtuanya). Milenial akan lebih tech savvy (melek teknologi) dan memiliki pandangan yang berbeda dalam proses memilah dan memilih informasi sebagai sumber pengetahuannya.

2. Lebih percaya peer affirmation rules


Seperti yang disebutkan tadi, milenial lebih menyukai informasi yang bersifat dua arah dan lebih percaya pada user generated content. Artinya, informasi yang langsung berasal dari sebuah perusahaan besar atau iklan secara terang-terangan akan lebih dihindari. Mereka akan lebih memilih pengalaman seseorang atau review (unboxing) dari sesama netizen yang telah mencoba produk tersebut.

Pantas, bila saat ini marak bermunculan pula sebuah profesi baru di Indonesia yang kerap disebut social influencer. Rata-rata, mereka adalah milenial yang bisa memberikan pengaruh dan opininya didengar di kalangan followers-nya. Pengalaman baik atau buruk biasanya tak segan-segan mereka bagikan.

3. Berpikir efektif dan efisien


Milenial adalah orang yang belajar dari siapa saja dan apa saja. Bahkan, generasi milenial tercatat lebih educated secara jenjang pendidikan. Tidak puas hanya sampai bangku SMA atau S1 saja, banyak dari generasi ini yang memiliki pendidikan rata-rata minimal S2.

Dengan begitu, mereka merasa memiliki banyak pilihan dengan kemampuannya dan cenderung berpikir apa yang paling efektif dan efisien untuk dilakukan. Tak jarang, pilihannya pun banyak mengarah antara trend vs passion. Mereka adalah generasi cepat dalam berpikir dan bertindak, karena memiliki prinsip "sempurnakan sambil berjalan". Yang penting, dilakukan dulu sambil berpikir bagaimana caranya menjadi lebih baik. Rata-rata, merupakan tipe pengambil risiko.

Memang, menurut hasil beberapa penelitian, disebutkan milenial cenderung tidak loyal tapi bekerja efektif. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga sudah banyak melakukan transaksi nontunai yang memudahkan demi efektivitas dan efisiensi tadi.

4. Berprinsip kolektif


Kolektif di sini berarti memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama. Ikatan yang ada dalam kelompok atau komunitas biasanya terjadi cukup erat atau memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Generasi milenial juga cenderung memilih berkolaborasi dibanding kompetisi, serta lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas kerja.

5. Menjunjung tinggi kebebasan dan menyukai hal baru


Kebebasan yang bertanggung jawab dipunyai oleh milenial. Mereka tidak suka dengan hal-hal terikat yang bersifat normatif. Kebebasan yang dimaksud memberikan mereka ruang untuk berekspresi dan berpikir cerdas daripada orang yang kerap terjebak dalam rutinitas seperti generasi di atas mereka.

Menyukai hal baru dianggap sebagai tantangan tersendiri yang merupakan bagian dari proses pembelajaran. Sebagai contoh, Alanda Kariza, si pelopor Indonesian Youth Conference yang dihadiri 2000-an anak muda dan berhasil ia inisiasi saat usianya belum genap 20 tahun. Ternyata, hal ini merupakan tantangan dan kekecewaan yang berbuah manis. Karena Alanda pernah mendaftar sebagai volunteer saat usianya 15 tahun dan tak ada satupun organisasi yang menerimanya. Luar biasa, kan?


Loading...



Baca juga: Ketahui 15 Jenis Pelanggan dengan Berbagai Tipe dan Kepribadian Serta Cara Untuk Menghadapinya

Lalu, Bagaimana Karakteristik Milenial dalam Dunia Kerja?


Percaya atau tidak, diprediksi bahwa pada tahun 2025 yang akan datang, porsi tenaga kerja di seluruh dunia yaitu sebanyak 75 % akan ditempati oleh generasi milenial. Saat ini pun, banyak CEO dan para pemegang kepentingan di perusahaan yang berasal dari generasi ini.

Lalu, apakah riset dari Sociolab tentang mayoritas milenial lebih meminta gaji yang tinggi, meminta jam kerja fleksibel, dan promosi dalam waktu setahun bisa dikatakan relevan?

Bagaimana pula survei yang dilakukan Jobstreet.com tentang generasi milenial yang suka sekali berpindah kerja dan tak pernah bekerja lama di suatu perusahaan hingga maksimal sama dengan 2 - 3 tahun? Nah, sebaiknya pahami dulu karakteristik milenial di dunia kerja berikut ini:

1. Cerdas, percaya diri, dan cepat beradaptasi


Milenial adalah generasi yang tech savvy (melek teknologi) dan multitasker. Mereka dengan mudah memperoleh akses informasi yang dibutuhkan dan terkoneksi satu sama lain. Pantas bila bekerja dalam suatu perusahaan, mereka cenderung cepat beradaptasi dan diperhitungkan.

Sebuah situs jajak pendapat, Jakpat, melakukan survei yang melibatkan 618 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, tentang beberapa kemiripan antara generasi X dan generasi Y (milenial). Contohnya adalah miripnya alasan yang mereka punyai untuk dapat mengembangkan karier dan berpikir bahwa mereka adalah generasi yang lebih baik dari orangtuanya.

2. Challenge seeker


Disebutkan bahwa milenial tidak bertahan lama di suatu perusahaan, memang ada benarnya, karena mereka tipe generasi yang suka mencari tantangan. Mereka tak takut berpindah-pindah kerja dalam rangka mencari tantangan terbaik dan mencari perusahaan yang bisa mendukung kreativitas mereka.

Chip Espinoza dalam buku Millenials@Work, mengungkapkan bahwa kebiasaan milenial berganti-ganti pekerjaan bukan karena mereka tidak kompeten, tapi mereka lebih mengutamakan kebahagiaan dalam pekerjaan yang mereka jalani. Karena mereka percaya menjalankan pekerjaan dengan bahagia akan mempengaruhi produktivitas kerja. Ini juga dipengaruhi oleh sifat terbuka, cepat menerima perubahan, dan dinamitasnya yang tinggi.

3. Lebih menyukai mentor daripada bos


Pola pikir lama yang menomorsatukan apapun yang diinginkan pimpinan perusahaan atau bos tidak dapat diaplikasikan bagi perusahaan yang memperkerjakan generasi milenial.

Sebab, milenial akan cenderung menginginkan memiliki pimpinan yang bersikap layaknya mentor, mengarahkan, dan menunjukkan kesalahan yang harus diperbaiki untuk menjadi lebih excellent. Juga, apresiasi yang sewajarnya dan tidak berlebihan atas hasil yang telah mereka capai juga mereka butuhkan.

Milenial akan semakin semangat bekerja ketika berada dalam lingkungan kondusif, terutama peran pimpinan yang berfungsi sebagai mentor.

4. Menyukai fleksibilitas kerja


Banyak dari milenial yang tidak menyukai keteraturan dalam bingkai birokrasi. Apalagi yang terlalu mengikat. Generasi ini identik sebagai generasi yang tidak mau diatur dan juga tidak terlalu banyak mengatur kinerja antarindividu atau tim. Yang mereka tahu adalah melakukan yang terbaik dari apa yang menjadi bagiannya.

Perusahaan yang mempekerjakan milenial harus belajar memberikan ruang. Waktu kerja bukanlah ukuran bagi milenial, tapi hasil yang berkualitas dengan waktu yang mereka tentukan sendiri akan bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi perusahaan. Cukup berikan mereka kepercayaan.

5. Cepat, kreatif, dan berambisi


Cepat di sini bukan berarti instan. Milenial suka melakukan sesuatu dengan cepat agar apa yang dilakukannya efisien dan efektif. Mereka juga cepat belajar dan sangat kreatif. Di saat yang sama, memiliki ambisi yang tinggi supaya kariernya cepat melesat. Ini seharusnya menjadi nilai plus bagi perusahaan yang bisa memberikan “ruang” yang sesuai.

Sifat cepat, kreatif, dan berambisi tinggi ini sangat memberi pengaruh positif di dunia kerja. Ditambah dengan pengetahuan teknologi yang akan banyak memberi dampak pada budaya kerja masa depan.

Sekarang, kamu sudah paham kan tentang karakteristik milenial dalam dunia kerja. Terakhir, ada beberapa tips yang mungkin berguna untuk para CEO atau manajer perusahaan dalam berhubungan dengan para generasi milenial ini.

Pertama, jangan lupa untuk memberikan ruang berkarya sebebas-bebasnya. Beri mereka kepercayaan dan lihat hasil akhirnya. Berikan apresiasi sesuai hasil kerjanya dan arahkan untuk proyek berikutnya dengan tantangan yang makin meningkat. Minimalisasi aturan yang mengikat.

Kedua, jadilah mentor yang inspiratif. Seperti yang sudah diulas, mereka lebih menyukai kehadiran mentor yang selalu memberikan arahan, baik mereka dalam posisi benar maupun salah. Jadilah sosok yang melebur dengan mereka, dan menginspirasi dengan sendirinya. Hilangkan sekat bos dan karyawan. Anggap mereka sebagai partner kerja yang simbiosis mutualisme.

Ketiga, selalu terbuka dengan hal baru dan libatkan milenial dalam pengambilan keputusan. Milenial juga merupakan generasi kritis yang ingin didengar pendapatnya. Libatkan mereka dalam evaluasi perusahaan dan brainstorming berkala. Karena mereka akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi apabila ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan.

Keempat, tingkatkan kreativitas di semua lini. Ubah suasana kantor menjadi lebih nyaman dan nge-pop. Adakan training motivasi yang dilakukan dengan pendekatan kreatif, sampai pada rapat-rapat yang “cair”. Atau, sentuhan kreatif pada busana kerja dan pola-pola pelaporan hasil pekerjaan.

Semoga dengan tips-tips di atas, potensi yang ada dalam diri milenial bisa bergandengan tangan dengan pemangku kepentingan perusahaan untuk menciptakan iklim SDM dan dunia kerja yang kompetitif. (Prita HW)

Artikel Menarik:
Loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.