Yuk, Kenali Karakteristik Generasi Z, dan Cari Tahu Cara Menyeimbangkan Kehidupan Si Digital Native Ini

Yuk, Kenali Karakteristik Generasi Z, dan Cari Tahu Cara Menyeimbangkan Kehidupan Si Digital Native Ini — Setelah posting-an sempat membahas tentang generasi Y (milenial), kini kamu akan kami ajak untuk berkenalan dengan generasi di bawahnya, yaitu generasi Z. Makhluk apalagi itu? Ini semacam istilah untuk membedakan antargenerasi saja sebenarnya.

Untuk generasi Z ini, ada banyak referensi yang menyebutkan rentang umur dan kelahiran yang berbeda-beda. Ada yang menyebutkan rentang kelahiran generazi Z adalah antara 1995 - 2010, ada yang menyebut antara 1995 - 2014. Sedangkan Badan Statistik Kanada menyebutkan antara 1993 - 2011. Bahkan, MTV menyebut generasi Z adalah yang lahir di bawah tahun 2000. Artinya, generasi ini adalah mereka yang saat ini berusia 17 tahun ke bawah (bila di bawah tahun kelahiran 2000), atau 21 tahun ke bawah (bila di bawah tahun kelahiran 1995).

Meski berbeda-beda dalam menafsirkan rentang kelahiran generasi ini, namun semua pihak sepakat dalam satu hal, yaitu generasi Z adalah yang lahir saat kecanggihan internet dan teknologi sudah bukan lagi menjadi barang mewah, karena bisa dinikmati siapapun.

ciri karakteristik sifat kepribadian unik orang manusia generasi z jenis macam tipe pengertian definisi arti media sosial medsos digital perilaku konsumen consumer behavior cara menghadapi mendekati memperlakukan tips pemasaran
Gambar via arevistadamulher.com.br

Di Indonesia sendiri, internet mulai menyapa di tahun 1990 dengan kehadiran Indonet sebagai provider jasa internet perdana.

Sebenarnya, karakteristik generasi Z hampir mirip dengan generasi Y atau milenial dalam hal melek teknologi (tech savvy). Mereka sama-sama tergantung pada kehidupan dunia maya dan kehadiran internet, serta selalu terkoneksi hampir 24 jam. Namun, ada perbedaan mendasar dari keduanya. Generasi Z menganggap kehidupan dunia maya adalah bagian dari kehidupannya, bukan lagi sebagai sebuah media atau platform seperti halnya generasi milenial.

Itulah sebabnya banyak yang menganggap generasi Z ini adalah anak-anak yang selalu menunduk pada gadget dan jarang berinteraksi secara nyata. Bisa jadi, generasi Z malah dibilang generasi yang tidak fokus dibandingkan dengan milenial. Benarkah begitu?

Seperti Apa sih Karakteristik Generasi Z?


Kemiripan yang dimiliki generasi Z dengan generasi sebelumnya yang disebut milenial tadi, mereka sama-sama serba cepat, dan bahkan Z lebih cepat, lebih berpikiran terbuka, dan lebih mengenal teknologi bahkan cenderung mahir.

Disebut-sebut dalam perputaran perekonomian dunia, generasi Z ini menyumbang 62 % sebagai konsumen produk elektronik! Tentu ini tak lepas dari faktor orang tua yang menyediakan akses untuk mereka. Maka dari itu, banyak pelaku industri yang ingin mengenal lebih dekat pangsa pasar potensial masa depan ini.

Karakteristik yang banyak diungkapkan tentang generasi Z ini sebagai berikut:

1. Lebih mahir teknologi dan terkoneksi dengan media sosial


Ada semacam anggapan bahwa kemampuan teknologi si Z ini sudah lahiriah. Sebab, mereka tak mengenal masa transisi sebelum adanya internet atau smartphone. Akibatnya, kemahiran teknologi yang dimilikinya adalah natural karena memang sudah ada dalam kehidupannya sehari-hari.

Tak heran, penggunaan chat messenger dan media sosial sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak saja mengirim pesan berupa teks, mereka juga sudah fasih mengirim voice notes, gambar, maupun recording sendiri, dan membuat video. Mereka cenderung berpikir spontan dengan apa yang mereka lakukan.

2. Lebih menyukai visual daripada teks


Kamu punya channel YouTube? Coba perhatikan berapa banyak channel pribadi yang dimiliki oleh si Z? Atau deretan subscriber di channel-channel populer, sebagian besar pasti didominasi generasi Z. Informasi yang mereka cari kebanyakan dalam bentuk visual bergerak seperti video yang diunggah di YouTube. Beda dengan generasi Y yang separuhnya masih dominan dengan teks dan mencari informasi lewat mesin pencari seperti Google.


Loading...



Baca juga: Ketahui 15 Jenis Pelanggan dengan Berbagai Tipe dan Kepribadian Serta Cara Untuk Menghadapinya

3. Lebih menginginkan sesuatu yang serba cepat


Seringnya, si Z memang tidak berpikir sebelum bertindak karena sifatnya yang spontan tadi. Dan ini membuat mereka sangat multitasking atau bisa banget melakukan berbagai aktivitas dalam waktu yang sama. Seperti membaca, sambil menonton, ada earphone yang sedang mengalunkan musik favorit di telinga, bahkan sambil makan dan berbicara. Menurutnya, itulah kepraktisan. Tapi sisi negatifnya, ini juga menjadikan mereka lebih individualis, dan kurang menghargai proses.

4. Lebih berpikiran terbuka dan cepat terjun ke dunia kerja


Dibanding generasi X dan Y yang masih didominasi pekerja kantoran, generasi Z lebih terbuka dalam menyikapi pilihan-pilihan yang ada di sekitarnya. Ini terjadi karena keran informasi terbuka lebar. Dan mereka lebih menghendaki kebebasan yang lebih tinggi dari milenial.

Generasi Z yang dinilai bisa belajar secara otodidak secara mandiri lebih tertarik bekerja dengan metode self employee atau menjadi pekerja kreatif dengan menjadi pekerja lepas ataupun memiliki usaha sendiri. Kreativitasnya lebih tinggi dari generasi sebelumnya.

5. Menggunakan beberapa media sekaligus sebagai sumber informasinya


Penelitian yang dilakukan Nielsen Consumer & Media View pada 2016 tentang generasi Z memberikan fakta yang cukup menarik. Survei yang dilakukan di 11 kota di Indonesia itu menghasilkan kesimpulan bahwa generasi Z masih melihat TV pada akhir pekan dan masih mendengarkan radio secara streaming atau melalui smartphone mereka selain media berupa jaringan internet.

Program TV yang ditonton memang berkutat pada program anak dan hiburan. Untuk segmen remajanya, si Z ternyata penonton favorit drama semacam FTV (film televisi), selain olahraga dan hiburan. Sedangkan radio terbanyak digunakan untuk mendengarkan musik-musik terkini yang up to date diputar.

Sedangkan akses internet saat ini terbanyak diakses dari rumah melalui smartphone dan iPad. Aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah berinteraksi lewat media sosial, hunting informasi, bermain game, dan mendengarkan musik.

Itu tadi karakteristik paling menonjol yang dimiliki generasi Z. Banyak yang menyimpulkan, di saat milenial semakin bertambah umur, generasi Z adalah masa depan. Perbedaan yang paling mendasar pula dengan milenial adalah dalam usia yang relatif muda, generasi Z ini sudah memiliki peran yang cukup besar dalam menentukan keputusan pembelian barang konsumsi dalam keluarga.

Apa yang Perlu Dilakukan untuk Menyeimbangkan Kehidupan Generasi Z?


Dari sekian banyak karakteristik di atas, ada yang perlu diwaspadai pula oleh orang-orang yang berada di sekitar generasi Z, terutama para orang tua.

Para orang tua ataupun pendidik di sekolah saat ini memiliki tugas untuk lebih mengenal digital native ini. Menghakimi mereka sebagai generasi yang berbeda dan tidak lebih baik dari generasi terdahulu malah akan menciptakan kesenjangan tersendiri. Ini dia yang perlu dilakukan untuk menyeimbangkan kehidupan si Z :

  • Lebih baik menyelami apa yang mereka butuhkan, dan memahami cara berkomunikasi yang lebih baik dengan mereka. Menyikapi interaksi yang kuat di dunia maya serta kurangnya intensitas di dunia nyata, sebenarnya bisa dikondisikan menurut lingkungan di mana mereka tumbuh dan berkembang.
  • Memasukkan mereka dalam klub-klub hobi dengan pendekatan appreciative learning akan membantu generasi Z merasakan manisnya kehidupan nyata dan berinteraksi secara lebih hidup. Misalnya, melihat talenta di bidang melukis, olahraga, atau science,dan sebagainya. Dorong mereka untuk menemukan teman dengan hobi yang sama sehingga bisa saling bertukar pikiran lewat klub tersebut.
  • Mengarahkan si Z untuk menyeimbangkan aktivitas indoor dan outdoor akan banyak membantu mereka mengenal kehidupan nyata dan mengurangi sikap skeptis terhadap pergaulan nyata. Ini bisa dilakukan dengan membuat acara semacam family gathering atau outbound/fun games saat liburan tiba. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah dari mereka, tapi situasi dan kondisi saat inilah yang makin mempersempit ruang gerak yang akhirnya memberikan mereka “contoh” secara tidak langsung. Mereka menjadi tergesa-gesa, dan seolah-olah merasa ruang dan waktu makin tipis.
  • Jadilah teman terbaik dalam aktivitas mereka saat mereka menggunakan gadget dan bangun komunikasi dengan cara yang tidak menggurui. Gunakan bahasa ala mereka yang disebut bahasa kekinian sehingga nasihat yang diberikan bisa diterima dengan baik.
  • Ini bisa dilakukan dengan saling bertukar pendapat tentang game yang sedang dimainkan bersama, tentang suatu informasi, dan sebagainya.
  • Dampingi mereka saat menggunakan platform media lain dan lakukan proses tanya jawab tentang pengalaman tersebut. Seimbangkan konten positif di dunia maya dengan mendorong generasi Z untuk bertindak produktif, bukan hanya konsumtif dalam arus informasi yang saat ini ada. Misalnya, bantu mereka untuk mengunggah hasil karya kreatif ke akun media sosialnya sehingga mereka tahu bahwa proses yang mereka lakukan ternyata bisa membuat mereka berharga. Ini akan membantu si Z menghargai proses dan tidak berpikir instan terhadap segala sesuatu. Saat berada dalam situasi ini, kamu sebagai yang lebih tua dari si Z, entah sebagai kakak atau orang tua, bisa memasukkan cerita pengalaman saat dulu juga sama-sama menikmati informasi atau hiburan dari media lain selain internet.

Dengan lebih mendekatkan diri kepada si generasi Z, lama kelamaan pikirannya tentang generasi sebelumnya akan terbuka dan mereka bisa mengikuti ritme yang dibiasakan dalam kehidupan sehari-harinya.

Arus informasi yang tanpa ampun sejujurnya memang membuat mereka bingung untuk memilah, memilih, dan menjadikan informasi tersebut sebagai pijakan untuk bersikap. Sebab, sekali lagi, mereka masih berada dalam masa pencarian jati diri dan berusaha menunjukkan eksistensi.

Penting juga untuk menanamkan keteguhan diri dalam bersikap untuk tidak ikut-ikutan tren yang mereka dapatkan dari overload informasi ataupun dari lingkungan pertemanan yang memang tidak sepenuhnya bisa dikontrol oleh orangtua.

Akhirnya, fenomena generasi yang terus berganti ini memang tak bisa dihindari. Yang perlu dilakukan adalah menghadapinya dengan bijak dan selalu berpikiran terbuka serta positif saat memposisikan diri sebagai generasi sebelumnya.

Jangan sampai kamu sendiri sebagai generasi di atas si Z merasa lebih mengetahui apapun dibandingkan mereka sehingga mengecilkan peranan mereka dalam berintraksi dan beraktivitas bersama. Bagaimanapun, setiap generasi, baik generasi X, generasi Y yang dikenal dengan sebutan milenial, maupun generasi Z yang dikenal dengan digital native memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dan kelebihan dan kekurangan ini bisa saling melengkapi untuk menyongsong perubahan dunia yang makin dahsyat ke depannya. Bukankah pemimpin masa depan dilahirkan dari generasi Z ini? Mari memaknai bersama jargon yang banyak didengungkan dimana-mana: "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan". (Prita HW)

Artikel Menarik:
Loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.