1/16/2018

Adidas, Sepatu yang Terkenal dengan Tiga Garis dan Segala Kisahnya di Industri Fashion

Adidas, Sepatu yang Terkenal dengan Tiga Garis dan Segala Kisahnya di Industri Fashion — Rasanya belum lekang di telinga kita tentang seri terbaru sneakers Yeezy dari Adidas yang sempat hype sekali dan menjadi item fashion mendunia. Dengan menggaet sosok kenamaan, yaitu Kanye West, seorang rapper sekaligus produser rekaman asal AS, pamor Yezzy bersama Adidas semakin melambung ke puncak sebagai apparel brand paling masyhur, terutama di tahun 2016 silam.

Pencapaian spektakuler Adidas lewat seri Yezzy tak serta merta datang begitu saja, guys. Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Adidas memang sejak awal menapaki dirinya sebagai sepatu olahraga. Sejak berdiri di tahun 1920 hingga kini, Adidas sudah melalui banyak perjalan hebat penuh perjuangan, meski harus bersaing secara hebat dengan brand berkelas lainnya seperti Puma, Nike, dan lainnya.


Loading...



Berpegang pada Kualitas


Adidas lahir di Herzogenaurach pada tahun 1920 dari dua bersaudara bernama Adolf (Adi) Dassler dan Rudolph Dassler. Di awal karier, Adi hanya memproduksi selop, sampai pada akhirnya memproduksi banyak produk apparel dari sneakers sampai pakaian. Sejak awal, Adi memprioritaskan kualitas pada produknya ketimbang hal lain, sehingga usahanya pun kian berkembang.

Empat tahun berselang, di tahun 1924, dua bersaudara tadi mendirikan Dassler Brother OGH dengan konsistensi pada kualitas produksinya. Nama tersebut menjadi cikal bakal permulaan terbentuknya brand kelas dunia yang nantinya bernama Adidas.

Terus melangkah dan mengembangkan produknya, tahun tersebut menjadi momentum awal yang penting bagi dua bersaudara tadi dalam mengembangkan produk sepatu olahraga. Tiga tahun berselang, tepatnya 1927, mereka sukses menghasilkan sepatu khusus untuk keperluan olahraga.

sejarah profil perusahaan brand merek sepatu adidas terkenal alamat kantor cabang pusat toko pusat perbelanjaan gerai outlet online shop model bahan sneakers koleksi pria wanita anak dewasa terbaru update asli original kw super palsu jual beli dropship reseller
Gambar via highsnobiety.com

Momentum Awal Dikenalnya Adidas


Tahun berikutnya, yaitu 1928, digelarnya Olimpiade menjadi momen penting bagi Adidas. Proses persiapan pun telah dilakukan dengan matang, baik dari produk maupun strategi lainnya. Akhirnya, Adidas dengan berani membagikan secara gratis sepatunya kepada atlet-atlet yang berlaga kala itu. Didukung sorotan media, salah satunya televisi, Adidas mulai mencuri perhatian masyarakat dunia lewat produk olahraga dan logo tiga stripnya yang khas dan dikenal sampai saat ini.

Berkat konsistensi Adidas pada kualitas produknya, pengenalan kepada para atlet membuahkan hasil positif. Atlet-atlet populer yang kala itu berlaga dan akhirnya menjadi legenda, meraih puncak karier keolahragawan mereka bersama produk Adidas.

Lina Radke, peraih medali emas pada Olimpiade 1928 di Amsterdam saat itu sudah mengenakan sepatu bermerk Adidas. Selain itu, masih ada Jesse Owen yang merupakan olahragawan cabang atletik, juga turut mengenakan sepatu Dassler Brothers dan menjadi atlet yang sukses di Olimpiade Berlin tahun 1936.

Metamorfosis Adidas: Digunakan oleh Atlet Olahraga Hingga Musisi


Kiprah Dassler dalam kancah perlengkapan olahraganya ternyata tidak selalu mulus. Menginjak tahun 1948, duo bersaudara ini akhirnya harus berpisah menjalani bisnisnya masing-masing. Pada Agustus 1949, Adi Dassler yang saat itu berumur 49 tahun membentuk merk Adidas yang berasal dari nama depannya "Adi" dan tiga huruf dari nama belakangya. Adi Dassler juga mematenkan logo tiga strip menjadi milik Adidas.

Di kubu lain, saudaranya Rudolph mendirikan perusahaan olahraga lainnya bernama Puma. Seperti kebanyakan yang kita tahu, kalau dua merk ini terus bersanding di papan atas sebagai perusahaan olahraga terbesar dan diperhitungkan di dunia hingga saat ini.

Mari kita biarkan Rudolph yang sukses bersama Puma, kemudian kita lanjut ke perjalanan Adidas. Walaupun sempat melalui masa-masa awal yang hebat bersama saudaranya Rudolph, Adi Dassler ternyata tidak kelimpungan menjalani Adidas.

sejarah profil perusahaan brand merek sepatu adidas terkenal alamat kantor cabang pusat toko pusat perbelanjaan gerai outlet online shop model bahan sneakers koleksi pria wanita anak dewasa terbaru update asli original kw super palsu jual beli dropship reseller
Gambar via adidas-group.com

Buktinya bisa dilihat di tahun 1954. Kala itu menjadi momen mengharukan bagi Tim Nasional (timnas) Sepak Bola Jerman, setelah berhasil mengalahkan tim kuat dan tak terkalahkan, yaitu Hungaria di putaran final Piala Dunia. Kejadian tersebut turut menaikkan pamor Adidas karena keberhasilan Jerman ternyata juga tak lepas dari kontribusi Adidas sebagai merk sepatu bola para atletnya.

Setelah menjadi bagian dari kesuksesan Timnas Sepak Bola Jerman, Adidas untuk pertama kalinya melebarkan bisnisnya pada jenis produk olahraga lain di tahun 1967. Adidas memperkenalkan satu set pakaian olahraga untuk jenis tracksuit yang kala itu dimodeli oleh bintang sepakbola kenamaan Jerman, yaitu Franz Beckenbauer. Semenjak itu, Adidas merilis banyak perlengkapan olahraga dan tak hanya terpaku pada jenis sepatu olahraga saja.

Setelah banyak menerbitkan berbagai perlengkapan hingga pakaian olahraga, Adidas kembali mengundang perhatian penggemar sepak bola pada Piala Dunia. Yup, bola sepak bernama TELSTAR dari Adidas berhasil terpilih menjadi bola resmi untuk pertandingan Piala Dunia 1970. Dan semenjak itu, Adidas menjadi salah satu merk yang ikut serta sebagai Official Match Ball to Every FIFA World Cup.

Di tahun 1971, giliran atlet tinju dunia sekelas Muhammad Ali dan John Frazier juga sudah menggunakan produk Adidas. Kesuksesan demi kesuksesan terus diraih Adidas. Bahkan, dalam Olimpiade Munich 1972, ada sekitar 1.164 dari 1.490 atlet internasional sudah menggunakan produk Adidas.


Loading...



Baca juga: Perjalanan New Balance, Dari Sekadar Ikon Sepatu Lari Hingga Jadi Tren Fashion Masa Kini

Di balik kesuksesan Adidas menjadi merk yang dipercaya para atlet, Adi Dassler menjadi sosok sentral yang terus berinovasi dengan produknya. Dassler tak segan menjumpai para atlet dan mendengarkan dengan cermat perkataan, komentar, serta masukan dari mereka. Dari obrolan tersebut, Dassler mendapat banyak masukan yang bermanfaat untuk perbaikan atau pembaruan produk Adidas agar lebih mumpuni dan sesuai memenuhi kebutuhan para atlet.

Selanjutnya, tahun 1978 menjadi momen menyedihkan bagi Adidas, karena sang kreator, Adi Dassler meninggal pada tanggal 6 September menjelang dirinya memasuki usia 78 tahun. Tahun-tahun luar biasa penuh perjuangan yang dilalui Adi Dassler bersama Adidas harus berakhir dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya Adi, yaitu Horst, yang didukung oleh ibunya, Kate. Dari situ, Adidas terus melangkah dan menggalakkan strategi marketing baru yang lebih modern.

Puncak kejayaan Adidas sempat sedikit menurun dan terusik dengan berjayanya Nike di pasar internasional pada awal era 80-an. Namun, seolah tak kehabisan akal, nama Adidas kembali berkibar lewat jalur lain, yaitu dunia musik. Adidas kembali populer saat grup rap asal New York RUN D.M.C membawakan lagu ciptaannya yang berjudul My Adidas di tahun 1986. Grup rap tersebut juga berhasil menjadi trendsetter gaya bersepatu Adidas tanpa menggunakan tali. Adidas tanpa tali dan RUN D.M.C akhirnya menjadi satu paket tak terpisahkan dan ditiru oleh banyak penggemarnya.

Setelah sukses menjadi ikon musisi rap, di tahun sebelumnya, yaitu 1984, Adidas membuat kreasi lain yang sangat canggih. Saat di mana komputerisasi saat itu belum begitu populer, Adidas sudah selangkah lebih maju dengan menempatkan Micropacer, atau di zaman sekarang lebih populer dikenal sebagai miCoach pada sepatu. Micropacer itu nantinya mampu memberikan statistik kinerja para atlet. Wah, kalau dipikir-pikir, teknologi Adidas saat itu sudah luar biasa, yah.

Masa-masa Sulit dan Kebangkitan Adidas


Pukulan telak kembali harus dihadapi Adidas, saat Horst Dassler meninggal pada tahun 1987. Dan, ibundanya juga lebih dahulu meninggal dua tahun sebelumnya. Kepergian mereka untuk selamanya menandakan berakhirnya era kempemimpinan keluarga Dassler di Adidas. Tak bisa dipungkiri, kalau kejadian itu berdampak besar sehingga mengancam keberlangsungan perusahaan Adidas, bahkan nyaris bangkrut di tahun 1992.

Robert Louis-Dreyfus kemudian datang menyelamatkan nasib Adidas yang kian di ujung tanduk kebangkrutan. Bersama rekannya Christian Tourres, Robert Louis membawa Adidas kembali ke zona aman pada tahun 1995.

Tetapi, meskipun sempat mengalami masa kemerosotan, tenyata Adidas tak pernah lelah dalam berinovasi lho, guys. Selama bergulat menyelesaikan masalah finansial, tim marketing Adidas mencoba fokus kembali pada hal yang menjadi tujuan perusahaan selama bertahun-tahun sebelumnya, yaitu membuat para atlet merasa lebih baik. Buktinya di masa-masa suram itu, Adidas menciptakan beberapa seri terbaik, mulai dari Torsion (1989), The Equipment Concept (1991), The Streetball Campaign (1992), dan The Predator Football Boot (1994).

sejarah profil perusahaan brand merek sepatu adidas terkenal alamat kantor cabang pusat toko pusat perbelanjaan gerai outlet online shop model bahan sneakers koleksi pria wanita anak dewasa terbaru update asli original kw super palsu jual beli dropship reseller
Run DMC, Gambar via sneakers.co.id


Setelah kembali solid, Adidas kembali memperkuat perusahaan dengan menerapkan sistem akuisisi kepada Salomon Group yang memiliki beberapa brand seperti Salomon, TaylorMade, Mavic and Bonfire. Perusahaan pun merubah namanya menjadi adidas-Salomon AG.

Datangnya Herbert Hainer sebagai CEO adidas-Salomon AG di tahun 2001 menjadi puncak titik balik Adidas yang kembali matang sebagai produsen perlengkapan olahraga terbaik di dunia. Melalui serangkaian inovasi, Adidas berhasil mengeluarkan seri Climacool (2002), Adizero (2004), dan F50 sebagai sepatu sepak bola yang diperkenalkan pada Piala Dunia 2006 di Jerman.

Gebrakan Adidas tak berhenti sampai di situ. Adidas yang sejak dulu dikenal sebagai brand yang gemar menggaet atlet populer sebagai brand ambassador, telah kembali pada jalurnya. Tak tanggung-tanggung, atlet-atlet sekaliber David Beckham, Haile Gebrselassie serta Muhammad dan Laila Ali menjadi duta Adidas dengan membawa jargon yang begitu spektakuler yaitu "Impossible is Nothing".

Setelah 15 tahun melalui masa yang hebat bersama kepemimpinan Herbert Hainer, tongkat CEO berlanjut kepada Kasper Rorsted pada Oktober 2016 silam. Lewat kepemimpinan Rorsted hingga kini, Adidas terus melaju menuju kesuksesan lain di era digital lewat strateginya yang dinamakan "Creating The New".

Dari Sekadar Perlengkapan Olahraga menjadi Ikon Fashion dan Gaya Hidup


Manuver Adidas dari sekadar perlengkapan olahraga para atlet ternama hingga digunakan musisi dan orang lain di luar profesi tersebut merupakan prestasi tersendiri. Setelah sukses menggaet RUN D.M.C di era 90-an, muncul pola fashion unik yang melanda kawula muda Amerika dan Eropa.

Nike dan Reebok yang saat itu juga menjadi kompetitor Adidas malah cenderung digunakan oleh generasi dewasa hingga tua. Hal ini menyebabkan kalangan muda mudi kala itu menghindari penggunaan sepatu dengan merk yang sama dengan kalangan orang tua. Otomatis, Adidas yang terpilih menjadi incaran kawula muda era 90-an, bahkan seri terlama dari Adidas pun sangat digandrungi meskipun harganya meninggi.

Meningkatnya minat kawula muda era 90-an pada Adidas tentunya membawa angin segar. Sehingga, Adidas kembali memunculkan seri lamanya yang sempat populer, seperti Adidas Rom, Rekord, Athen, Dublin, dan lainnya.

Tren positif berkembangnya Adidas di tengah banyak kalangan dan profesi pun pun tetap bertahan hingga kini. Jadi, tak hanya untuk keperluan olahraga, Adidas menjadi sebuah gaya hidup dan identitas bagi penggunanya. Sampai pada akhirnya, seperti yang kita kebanyakan tahu di tahun 2016 pamor Adidas melambung saat bermunculannya seri-seri apik seperti Adidas NMD, Yeezy, dan Ultra Boost, serta dukungan musisi rap, Kanye West. (Reza Andrian)

Artikel Menarik:
Loading...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar