Kegagalan 17 Perusahaan Startup Luar Negeri dan Pelajaran yang Bisa Dipetik

Kegagalan 17 Perusahaan Startup Luar Negeri dan Pelajaran yang Bisa Dipetik — Rasanya, semua orang suka membaca tentang biografi tokoh serta kisah sukses, termasuk kisah sukses startup. Namun pada kenyataannya, selayaknya hidup di mana ada kesuksesan ada pula kegagalan. Seperti halnya startup yang juga rentan mengalami kegagalan. Namun, ada nilai dalam pembicaraan tentang kegagalan startup karena kita semua belajar dari kegagalan orang lain atau kegagalan kita sendiri.
Ide yang sama ini berlaku untuk startup.

Ada berbagai survei, riset dan tulisan tentang cara membangun startup yang sukses. Namun, menurut laporan, 90 persen startup gagal. Itulah mengapa sangat penting untuk mempelajari lebih lanjut tentang mengapa dan bagaimana startup bisa gagal dan kamu dapat melakukan antisipasi untuk mencegah kegagalan yang sama. Yuk, kita melihat startup teknologi yang gagal berikut. Mari kita kulik satu per satu untuk mendapatkan gambaran lebih jelas.


Loading...



Perusahaan Startup Luar Negeri yang Gagal


1. Juicero.com


Juicero merupakan pionir startup yang menyediakan sistem cold pressed juice di rumah. Misinya adalah membantu orang mengonsumsi lebih banyak produk segar setiap hari. Berdiri di tahun 2013 dengan total pendanaan sebesar US$118,5 juta, Juicero akhirnya menyerah dan tutup di tahun 2017. Alasan tutupnya Juicero ini karena produk terlalu mahal dan konsumen tidak siap membayar US$ 400 hingga US$ 699 untuk harga sebuah juicer yang dapat terhubung ke internet ini.

2. Teforia.com


Teforia memadukan tradisi teh yang kaya dengan teknologi untuk menciptakan pengalaman meminum teh modern yang sempurna. Mereka menyebutnya sebagai pengalaman teh untuk dunia modern. Teforia menggunakan teknologi Selective Infusion Process (SIP) dan kemasan yang secara otomatis menentukan rasa dan komposisi terbaik dari setiap jenis teh, menciptakan segelas teh yang sempurna.

Teforia menggabungkan pengetahuan kuno tentang pembuatan teh dengan teknologi machine learning yang canggih. Berdiri tahun 2014, Teforia harus menutup layanannya pada Oktober 2017 karena harga produk yang mahal, kekurangan dana dan waktu untuk mengedukasi konsumen tentang nilai produk mereka.

3. Beepi.com


Beepi merupakan startup marketplace untuk jual beli mobil bekas yang tutup pada Februari 2017. Sebenarnya, Beepi adalah salah satu contoh startup yang punya gagasan bagus, namun pengelolaannya sangat buruk. Padahal, Beepi sudah mengeksekusi ide yang cukup solid, didukung dengan layanan customer support yang mantap menjadi kunci dari penjualan. Bahkan, Beepi berhasil mencapai valuasi setinggi US$ 560 juta dari beberapa ronde pendanaan setelah menerima uang dari 35 investor sebesar US$ 148,95 juta. Tapi sayangnya, Beepi dijalankan dengan prioritas yang keliru.

4. Pets.com


Pets.com diluncurkan pada bulan Agustus 1998, sebagai online marketplace untuk pemilik hewan peliharaan. Lewat Pets.com, pemilik hewan peliharaan akan menghemat waktu dengan berbelanja online dan membayar lebih sedikit untuk sejumlah besar produk hewan peliharaan. Dengan anggaran pemasaran yang cukup besar saat peluncuran, situs ini dengan cepat berhasil memperoleh pendanaan sebesar US$ 80 juta. Sayangnya, pada akhir tahun 2000, startup itu menutup layanannya setelah membakar US$ 300 juta dalam waktu sekitar dua puluh tiga bulan.

daftar list perusahaan startup luar negeri internasional tingkat level gagal bangkrut kenapa bagaimana penyebab permodalan kurang studi kasus bahan materi kuliah pemasaran bisnis dosen mahasiswa makalah tugas skripsi skala lokal indonesia operasinal corporate failed bankruptcy
Gambar: drexlaw.com

5. KotaGames


KotaGames, situs game berbasis web, menutup layanannya pada bulan Maret . Mereka mulai beroperasi sekitar tahun 2008. Kemungkinan kesalahan mereka adalah menggantungkan pendapatan pada feature phone. TMG (The Mobile Gamers), induk perusahaan KotaGames, nampaknya gagal menyesuaikan model bisnisnya dengan pesatnya pertumbuhan gaming di smartphone.

6. Superdeals


Superdeals merupakan situs yang menawarkan promosi harian milik operator telekomunikasi asal Singapura, SingTel. Sebenarnya, penutupan Superdeals di awal tahun 2015 ini bukanlah hal baru yang mengejutkan. Karena model bisnis seperti itu mengalami kerugian yang sangat banyak di seluruh dunia. Seperti halnya Groupon yang berhasil berada di garis depan akan pesatnya pertumbuhan startup serupa beberapa tahun lalu, namun akhirnya tidak mampu menarik jumlah pengguna sesuai target.

7. Molome


Molome merupakan aplikasi yang membuat sebuah foto menjadi lebih menarik dan lucu dengan tambahan stiker dan teks pada foto aslinya. Lahirnya Molome dilatarbelakangi oleh penduduk Asia yang terobsesi berfoto selfie dan menampilkannya secara online. Pendirinya mengklaim telah memiliki 40 ribu pengguna harian yang mengunggah lebih dari 15 ribu foto setiap harinya. Namun sayangnya, hal itu belum cukup bagi Molome untuk bisa bersaing dengan aplikasi berbagi foto seperti Instagram dan Snapchat. Pada pertengahan November 2015, pendirinya memutuskan untuk membubarkan layanan Molome.

8. Auctionata


Auctionata merupakan sebuah sebuah rumah lelang online dan perusahaan eCommerce yang mengkhususkan diri dalam barang-barang mewah, seni, barang antik dan koleksi. Auctionata didirikan pada tahun 2012 untuk menyiarkan lelang barang seni dan koleksi lainnya secara langsung. Live auction telah lama menjadi ambisi bagi para pecinta seni karena mempunyai potensi untuk membuka pintu dan semua jenis pecandu tawar menawar ke audiens yang lebih banyak lagi, yang tentunya akan menaikkan harga barang yang dilelang. Tapi sayangnya, usaha live auction tersebut gagal memenuhi harapan, yang menjadi salah satu penyebabnya adalah kecepatan jaringan yang tidak memadai. Auctionata pun bangkrut di tahun 2017.

9. Rdio


Rdio adalah situs streaming musik yang diluncurkan pada tahun 2010 untuk bersaing dengan Spotify, dan sekarang Apple Music. Meskipun didirikan oleh pendiri Skype dan Kazaa yaitu Niklas Zennström and Janus Friis, namun kenyataannya, Rdio tak mampu bersaing dengan layanan serupa. Rdio telah berjuang untuk bersaing dengan Spotify sejak 2011, ketika layanan musik asing memasuki pasar AS dan menawarkan versi gratis yang lebih baik. Orang-orang terpikat pada Spotify dan bersedia membayar iuran berlangganan, tetapi Rdio gagal mendapatkan langganan atau mengubah model bisnis.

10. Yik Yak


Yik Yak merupakan aplikasi jejaring sosial anonim yang didirikan pada tahun 2013 lalu. Awalnya, startup ini berhasil meraih pendanaan sebesar US$ 73,4 juta dengan valuasi US$ 400 juta di tahun 2014. Sayangnya, aplikasi ini menghadapi masalah yang sebenarnya bisa diprediksi oleh semua forum yang memanfaatkan anonimitas sebagai cara berkomunikasi satu sama lain. Yik Yak sangat rentan terhadap pelecehan dan konten-konten menjijikkan membuat orang-orang tidak nyaman.

Akhir 2016, total pengunduh Yik Yak merosot 76 persen dibandingkan periode sama pada tahun 2015, yang menyebabkan mereka terpaksa merumahkan pegawainya. Pada April 2017, Yik Yak pun menutup layanannya.


Loading...



Baca juga: Cara Membangun Bisnis Start Up: 5 Langkah yang Bisa Dilakukan dan 4 Risiko yang Perlu Diwaspadai

11. Stayzilla


Stayzilla adalah platform online yang memungkinkan travelers untuk mencari dan memesan hotel di seluruh India. Dengan kata lain, Stayzilla adalah semacam Airbnb untuk homestay di India. Startup ini didirikan tahun 2005 lalu dan berhasil mengumpulkan US$ 34 juta dari investor. Sayangnya, pada tahun 2017, Stayzilla harus menutup layanannya karena pengelolaan dan manajemen yang salah urus.

12. GrooveShark


Grooveshark adalah layanan streaming musik yang diluncurkan pada tahun 2006 sebagai sebuah situs di mana pengguna dapat mengunggah musik untuk didengarkan oleh orang lain. Namun, ide yang cukup menarik ini ternyata terhadang masalah hukum tentang pelanggaran hak cipta dan royalti. Kegagalannya dalam mendapatkan lisensi dari pemegang hak untuk sejumlah besar musik pada layanan tersebut berimbas pada kegagalan Grooveshark. Dan pada tahun 2015, Grooveshark benar-benar menutup layanannya setelah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 6 juta.

13. Melotic


Melotic adalah sebuah startup asal China yang merupakan tempat penukar aset digital berbasis bitcoin. Tujuan startup ini adalah memfasilitasi penukaran antara mata uang digital alternatif dengan koin dari aplikasi tertentu. Awalnya, startup ini berhasil mendapatkan pendanaan tahap awal sebesar US$ 1,18 juta pada bulan Oktober 2014, dari beberapa investor, termasuk 500 Startup. Namun sayangnya, jumlah tersebut belum mencukupi untuk membangun produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. Akhirnya, pada bulan Mei 2015, Melotic menyerah dan tutup dengan alasan tidak mengalami pertumbuhan yang cukup untuk menutup biaya pengembangan, perawatan, dan dukungan.

14. Quixey


Quixey merupakan sebuah mesin telusur pada perangkat seluler yang dapat membantu penggunanya mencari konten di aplikasinya. Startup ini berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 164,9 juta dengan valuasi mencapai US$ 600 juta. Namun saat Quixey ekspansi ke bidang pembuatan asisten digital untuk aplikasi, ternyata Apple dan Google serta rintisan lain seperti Viv yang akhirnya diakuisisi Samsung, sedang menggarap usaha serupa. Tak mampu bersaing, akhirnya pada bulan Februari 2017 Quixey pun bangkrut.

15. Quirky


Diluncurkan pada tahun 2009, Quirky adalah platform penemuan di mana orang dapat memilih ide produk yang mereka sukai, dan perusahaan akan mengubahnya menjadi produk, seperti strip Pivot Power yang sangat digemari. Walaupun ide startup ini sangat menarik, namun sayangnya banyak produk Quirky yang memiliki margin tipis bahkan tidak ada margin. Sebagai contoh, perusahaan telah menghabiskan hampir US$ 400 ribu untuk mengembangkan speaker Bluetooth yang hanya terjual 28 unit. Akibatnya, startup ini kehabisan uang dan mengajukan kebangkrutan pada bulan September 2015.

16. Zirtual


Startup ini menyediakan asisten virtual on-demand. Yang membedakan dirinya dengan yang lain adalah Zirtual memiliki karyawan full time dan bukannya menggunakan pekerja kontrak. Setiap asisten akan bekerja dengan banyak akun, tergantung pada beban kerja, sehingga membuatnya menjadi lebih murah untuk klien korporat. Tapi, karena rendahnya permintaan membuat Zirtual memiliki banyak karyawan yang menjadi beban operasional perusahaan. Selain itu, Zirtual juga kesulitan dalam meraih pendanaan untuk melanjutkan bisnisnya.

17. Beyeu


Beyeu adalah situs e-commerce untuk perlengkapan bayi di Vietnam. Meskipun startup ini didukung oleh Project Lana, perusahaan internet terkemuka di Vietnam yang menjalankan komunitas daring untuk wanita. Namun kenyataannya, Beyeu tak mampu bersaing karena kompetisi yang ketat dan kurangnya pengalaman sang pendiri dengan e-commerce.

Kegagalan 17 startup di atas bisa menjadi pembelajaran berharga bagi para pemilik startup atau yang berniat untuk membangun startup baru. Bagi kebanyakan orang terutama para pendiri startup, suntikan dana besar bisa tampak seperti jawaban untuk semua masalah mereka. Dengan modal keuangan atau finansial yang kuat berarti lebih banyak peluang untuk menemukan kecocokan pasar produk.

Tersedianya anggaran berarti perusahaan memiliki kesempatan untuk bereksperimen dalam meretas pertumbuhan, dan lebih banyak sumber daya untuk menarik rekan tim yang berbakat untuk bergabung. Namun kenyataannya tak demikian. ada pendapat yang mengatakan bahwa lebih banyak uang atau pendanaan, artinya akan ada lebih banyak masalah. Karena pada dasarnya ada banyak komponen bagi startup untuk sukses. (Marthapuri Dwi Utari)

Artikel Menarik:
Loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.